kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Rupiah Melempem, Laju Inflasi Perlu Direm


Minggu, 30 Oktober 2022 / 20:43 WIB
ILUSTRASI. Rupiah


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah di Perdagangan Terakhir Oktober, Senin (31/10)

“Pelaku usaha dilema. bila harga jual produk tidak naik, tekanan biaya produksi akan ditanggung oleh produsen, sementara bila dinaikkan harga jualnya, menginta kondisi daya beli konsumen saat ini, omzet bisa turun,” jelas Bhima.

Lebih lanjut, Bhima memperkirakan inflasi secara tahunan akan berada di level 5,83% yoy. Sehingga, meski inflasi secara bulanan melandai, tetapi inflasi tahunan masih tinggi hampir menyentuh 6% YoY.

Faktor penyumbang inflasi ini adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang menyundut kenaikan beberapa sektor, seperti transportasi. Selain itu, kenaikan harga pangan seperti beras, tempe, dan kenaikan harga rokok juga masih memengaruhi inflasi.

Bhima khawatir, kenaikan inflasi ini masih akan dirasakan oleh Indonesia selama beberapa waktu ke depan. Belum lagi ada faktor seasonal natal dan tahun baru pada akhir tahun ini, yang akan memicu kenaikan permintaan. Selain itu, masih ada risiko pelemahan kurs rupiah hingga akhir tahun ini.

“Sehingga, pemerintah bisa melakukan antisipasi untuk momen akhir tahun, juga terkait logistik dan ketersediaan. Bank Indonesia (BI) juga perlu menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah, karena imported inflation bisa menjadi PR utama pengendalian inflasi ke depan,” tandas Bhima. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×