Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah tengah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang sejumlah negara di kawasan.
Menurut Purbaya, depresiasi rupiah sejauh ini masih lebih kecil dibandingkan mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia dan Bath Thailand.
“Rupiah terdepresiasi 0,3% jauh lebih baik dari negara-negara sekeliling kita seperti Malaysia dan Thailand,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Gejolak Timur Tengah Tingkatkan Risiko Ekonomi dan Fiskal RI
Purbaya menjelaskan, ketahanan rupiah saat ini ditopang oleh kondisi fiskal dan moneter domestik yang dinilai masih cukup kuat. Ia menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Di pasar keuangan, rupiah justru sempat menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka di level Rp 16.851 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,07% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.863 per dolar AS.
Penguatan ini melanjutkan tren positif pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Pada Selasa (10/3/2026), rupiah ditutup menguat cukup signifikan sebesar 0,47% ke level Rp 16.855 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,01% ke level 98,836.
Purbaya juga menyinggung kritik yang diterimanya di media sosial terkait pergerakan rupiah. Ia mengaku kerap mendapat komentar negatif dari warganet, termasuk di platform TikTok.
“Saya sering dimaki-maki di TikTok. ‘Pak Purbaya kerjanya apa tuh, rupiah benerin,” ujar Purbaya.
Baca Juga: Kemenkeu Catat Restitusi Pajak Sebesar Rp 91,8 Triliun, Turun 17% di Februari 2026
Meski demikian, ia menilai masyarakat perlu melihat kondisi nilai tukar rupiah dalam konteks global. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan pergerakan mata uang negara lain.
Purbaya menegaskan, posisi Indonesia masih relatif kuat karena ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang dijaga tetap prudent, serta fundamental ekonomi yang dinilai masih solid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












