kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.550   50,00   0,29%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ruang kerja dua politisi Golkar digeledah KPK


Selasa, 19 Maret 2013 / 13:00 WIB
ILUSTRASI. Masa depan Ole Gunnar Solskjaer terjawab dari 3 laga Manchester United berikutnya


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) siang ini (19/3) melakukan penggeledahan ruang kerja politisi Partai Golkar Setyo Novanto dan Kahar Muzakir yang berlokasi di gedung Nusantara I DPR RI.

Walaupun aktivitas penyidik KPK sudah terlihat, namun KONTAN belum mengetahui perihal atau kasus yang terkait dengan penggeledahan tersebut.

Setidaknya, ada 22 petugas KPK datang ke gedung Nusantara I pada pukul 10.00 WIB. Mereka langsung menuju ke lantai 12 tempat Fraksi Partai Golkar berkantor.

Namun sesampainya disana, petugas KPK berbagi tugas menjadi dua kelompok. Sebagian menuju ke ruang bagian depan gedung, dimana ruangan Ketua Fraksi Partai Golkar Setyo Novanto bernomor 1201.

Sedangkan sebagian lagi menuju ruang bagian belakang, dimana ada ruangan anggota DPR Kahar Muzakir bernomor 2016.

"Sebagian masuk ke sana (menunjuk ruang Setyo) dan sebagian ke sana (menunjuk ruang Kahar). Ini masih di dalam," kata salah satu petugas pengamanan.

Sayang, petugas keamanan itu tidak mengetahui latar belakang kasus terkait penggeledahan tersebut. Begitu juga dengan petugas KPK yang datang.

Mereka hanya menebar senyum sambil dan langsung masuk ke ruangan politisi itu. Juru bicara KPK Johan Budi pun ketika dikonfirmasi mengaku masih belum mengetahuinya. "Belum tau, nanti saya cek," ujar Johan dalam pesan singkatnya.

Seperti diketahui nama Setyo Novanto dan Kahar Muzakir sempat mencuat ke permukaan ketika lembaga anti rasuah itu menyidik kasus dugaan suap PON Riau.

Keduanya sempat disebut mantan Kadispora Riau Lukman Abbas pernah meminta uang pelicin sebesar Rp 9 miliar untuk meloloskan tambahan anggaran PON Riau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×