Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko inflasi Indonesia mulai bergeser dari sekadar tekanan harga pangan menjadi ancaman yang lebih persisten.
Selain volatile food, kenaikan harga energi, pemulihan aktivitas manufaktur, belanja fiskal yang menguat pada kuartal IV, serta volatilitas rupiah berpotensi memperpanjang tekanan harga hingga akhir 2026.
Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan (yoy), naik dari 3,19% pada Agustus 2026. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,30%.
Baca Juga: Harga Pangan hingga Belanja Fiskal Bikin Risiko Inflasi Makin Presisten
Kenaikan tersebut masih terutama didorong oleh kelompok volatile food. Inflasi volatile food mencapai 5,03% yoy dengan kenaikan 1,46% secara bulanan.
Sebaliknya, tekanan dari kelompok inti masih relatif terkendali. Inflasi inti melandai menjadi 2,84% yoy dengan kenaikan 0,10% secara bulanan.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai, data September belum menunjukkan tekanan inflasi yang meluas dari sisi permintaan maupun impor. Namun, arah risikonya mulai berubah karena sejumlah faktor dapat membuat inflasi bertahan lebih lama.
“Risikonya menjadi lebih asimetris dan dapat membuat inflasi lebih persisten,” kata Faiz dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Menurut Faiz, kenaikan harga pangan dan energi menjadi sumber tekanan tambahan terhadap inflasi. Kondisi tersebut berpotensi diperkuat oleh pemulihan aktivitas manufaktur dan belanja fiskal yang lebih kuat pada kuartal IV.
Pergerakan rupiah juga menjadi faktor penting. Volatilitas nilai tukar yang berlanjut dapat meningkatkan transmisi kenaikan harga bahan bakar dan input produksi impor ke harga domestik.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Harga Energi Global Melonjak dan Tekan Negara Asia
Dengan kondisi tersebut, perkembangan inflasi ke depan tidak lagi hanya bergantung pada harga pangan.
Harga energi, pemulihan aktivitas ekonomi, ekspansi belanja pemerintah, serta stabilitas rupiah akan menjadi faktor yang menentukan seberapa lama tekanan inflasi bertahan.
Risiko tersebut juga dapat mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Jika pelemahan rupiah mulai lebih kuat diteruskan ke harga barang dan jasa domestik, tekanan inflasi dapat menjadi pertimbangan bagi BI dalam menentukan arah suku bunga.
Faiz mempertahankan proyeksi BI Rate sebesar 6,25% pada akhir 2026. Menurut dia, waktu kenaikan suku bunga akan sangat bergantung pada keberlanjutan volatilitas rupiah.
Baca Juga: Harga Energi Fosil Mahal, Minat Pemanfaatan Panel Surya Diproyeksi Meningkat
Jika tekanan terhadap rupiah tetap tinggi di tengah kenaikan imbal hasil global dan harga energi, BI diperkirakan secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan pada instrumen stabilisasi non-suku bunga dan kembali mengandalkan pengetatan suku bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














