kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu


Jumat, 29 Mei 2026 / 18:11 WIB
Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Inflasi Jateng pada April 2026 (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi pada Mei 2026 akan naik, baik secara bulanan maupun tahunan seiring mulai meningkatnya tekanan biaya produksi dan imported inflation akibat pelemahan rupiah.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede memperkirakan inflasi umum Mei 2026 sebesar 0,14% secara bulanan, naik tipis dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13% month to month (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi diproyeksikan meningkat signifikan dari 2,42% pada April menjadi 2,94% pada Mei 2026.

“Jadi, arah inflasi Mei bukan melemah, tetapi sedikit meningkat karena tekanan biaya mulai lebih terasa ke konsumen,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu

Menurut Josua, pendorong inflasi Mei 2026 terutama berasal dari sisi pasokan dan biaya, bukan dari lonjakan permintaan masyarakat. Tekanan inflasi muncul akibat kenaikan biaya bahan baku, depresiasi rupiah yang meningkatkan harga input impor, harga energi yang masih tinggi, serta permintaan musiman menjelang Iduladha.

Ia menilai komponen harga pangan bergejolak atau volatile food diperkirakan kembali mencatat inflasi karena meningkatnya permintaan bahan makanan menjelang Iduladha. Selain itu, komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices juga berpotensi naik seiring tingginya harga BBM nonsubsidi, energi, dan tarif angkutan udara yang terdorong biaya avtur.

Di sisi lain, inflasi inti atau core inflation diperkirakan naik dari 2,44% yoy pada April menjadi 2,50% yoy pada Mei 2026. Kenaikan inflasi inti terutama dipengaruhi oleh inflasi pangan inti, khususnya minyak goreng, serta kenaikan biaya input nonpangan akibat pelemahan rupiah.

Namun demikian, Josua mengatakan penurunan harga emas diperkirakan menjadi faktor penahan sehingga tekanan inflasi inti tidak meningkat terlalu tajam.

“Dengan kata lain, inflasi Mei masih terkendali dalam sasaran BI, tetapi kualitas tekanannya perlu diperhatikan karena mulai berasal dari biaya produksi dan impor, bukan sekadar permintaan musiman,” jelasnya.

Ke depan, Josua melihat risiko inflasi masih cenderung meningkat. Dari sisi domestik, sikap fiskal yang ekspansif dinilai dapat mendorong uang beredar dan permintaan.

Baca Juga: Kejar Proyek PLTS 100 GW, Pemerintah Siapkan 24.000 Hektare Lahan di Jawa

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi meningkatkan permintaan pangan jika tidak diimbangi peningkatan produksi dan perbaikan rantai pasok.

Risiko cuaca seperti potensi El Niño besar juga dinilai perlu diwaspadai karena dapat mengganggu produksi pertanian dan memicu kenaikan harga pangan.

Sementara dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, menekan rupiah, dan meningkatkan risiko imported inflation.

Meski demikian, Josua menilai masih terdapat faktor penahan inflasi, yakni output gap ekonomi yang masih negatif. Artinya, permintaan agregat belum terlalu kuat sehingga risiko inflasi akibat permintaan berlebihan masih relatif terbatas.

Dengan asumsi harga BBM subsidi tetap ditahan, PermataBank memperkirakan inflasi umum pada akhir 2026 berada di kisaran 2,72%.

Namun, apabila risiko pelemahan rupiah, harga minyak, pangan, dan cuaca memburuk secara bersamaan, inflasi berpotensi meningkat lebih tinggi dan membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan.

“Meski begitu, skenario dasar kami masih melihat BI Rate bertahan di 5,25% karena kenaikan 50 basis poin sebelumnya sudah bersifat antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Josua.

Josua menekankan, pemerintah perlu menjaga pasokan pangan dan energi, memastikan impor produktif tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap transaksi berjalan, serta menjaga stabilitas rupiah agar kenaikan biaya impor tidak semakin diteruskan ke harga konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×