Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi Indonesia mulai menghadapi risiko tekanan yang lebih persisten. Meski kenaikan inflasi September 2026 masih terutama dipicu oleh kelompok volatile food, sejumlah faktor lain seperti kenaikan harga energi, pemulihan aktivitas manufaktur, dan penguatan belanja fiskal pada kuartal IV berpotensi membuat tekanan harga bertahan lebih lama.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, inflasi September mengonfirmasi tren kenaikan inflasi utama, tetapi belum menunjukkan tekanan inflasi yang meluas dari sisi permintaan maupun impor.
"Inflasi inti melandai dan kelompok volatile food menyumbang sebagian besar kenaikan secara bulanan, menunjukkan bahwa tekanan dari sisi pasokan masih menjadi pendorong utama," kata Faiz dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: Produksi Susu Lokal Baru 20%, Bapanas Andalkan Sapi Grati Bisa Hasilkan 30 Liter/Hari
Untuk diketahui, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan, meningkat dari 3,19% pada Agustus 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,30%.
Sementara itu, inflasi inti justru melandai menjadi 2,84% secara tahunan dengan kenaikan 0,10% secara bulanan. Adapun inflasi volatile food mencapai 5,03% secara tahunan dan 1,46% secara bulanan.
Faiz menilai, meski tekanan inflasi saat ini masih didominasi oleh faktor pasokan, risiko ke depan mulai lebih condong ke arah tekanan yang bertahan lebih lama.
Menurutnya, kenaikan harga pangan dan energi dapat menjadi sumber tekanan tambahan terhadap inflasi. Di saat yang sama, pemulihan aktivitas manufaktur dan belanja fiskal yang lebih kuat pada kuartal IV dapat memperbesar tekanan harga.
"Namun, risikonya menjadi lebih asimetris. Harga pangan dan energi yang lebih tinggi, pemulihan aktivitas manufaktur dan belanja fiskal yang lebih kuat pada kuartal IV dapat membuat inflasi lebih persisten," ujarnya.
Tekanan tersebut juga berpotensi diperkuat oleh pergerakan nilai tukar rupiah. Irman mengatakan, volatilitas rupiah yang berlanjut secara bertahap dapat meningkatkan transmisi kenaikan harga bahan bakar dan input produksi impor ke harga domestik.
Dengan demikian, meski inflasi inti masih terkendali, perkembangan inflasi ke depan tidak hanya akan bergantung pada harga pangan. Pergerakan harga energi, aktivitas ekonomi domestik, kebijakan fiskal, serta stabilitas rupiah menjadi faktor yang perlu dicermati.
Baca Juga: PMI Manufaktur Naik, Industri Baja Masih Dibayangi Tekanan Biaya dan Impor
Faiz juga memperkirakan inflasi yang semakin persisten pada akhirnya dapat memengaruhi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), terutama apabila tekanan nilai tukar mulai lebih jelas diteruskan ke harga barang dan jasa domestik.
“Kami mempertahankan proyeksi BI Rate sebesar 6,25% pada akhir 2026, dengan waktu kenaikan yang bergantung pada keberlanjutan volatilitas rupiah,” tandasnya.
Jika volatilitas rupiah tetap tinggi di tengah kenaikan imbal hasil global dan harga energi, ia memperkirakan BI secara bertahap akan bergeser dari kebijakan yang lebih banyak mengandalkan instrumen stabilisasi non-suku bunga menuju pengetatan suku bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














