Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pergerakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) masih dapat dikendalikan pemerintah meski kondisi pasar keuangan global tengah bergejolak.
Purbaya mengatakan pemerintah akan tetap mengikuti sinyal yang diberikan bank sentral dalam menentukan level yield SBN.
Namun, apabila imbal hasil surat utang dinilai terlalu tinggi, pemerintah akan melakukan langkah untuk menjaga agar biaya pembiayaan tetap terkendali.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Guru Besar UI Ingatkan Beban Bunga Utang Pemerintah
"Kami akan ikut sinyal dari bank sentral untuk yield seperti apa, tapi kalau ketinggian, ya kita akan diskusilah juga jangan ketinggian," kata Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, pemerintah memiliki instrumen untuk melakukan stabilisasi pasar surat utang ketika terjadi tekanan. Salah satunya melalui Bond Stabilization Fund yang berada di Kementerian Keuangan.
"Kan kemarin-kemarin saya pernah di Mei, aktifkan Bond Stabilization Fund punya (Kementerian) Keuangan, dengan dana yang sedikit bisa menurunkan bunga secara signifikan," katanya.
Ia menilai kemampuan tersebut menjadi penting ketika pasar keuangan global sedang menghadapi tekanan dan imbal hasil di berbagai negara mengalami kenaikan.
"Ketika di luar lagi naik semua, jadi saya pikir bunga tidak terlalu sulit di pasar ya untuk dikendalikan, kalau kita mau," ungkap Purbaya.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah berupaya melakukan diversifikasi sumber pembiayaan melalui pasar surat utang di berbagai negara.
Purbaya menegaskan pembiayaan melalui negara seperti Jepang maupun China bukan merupakan pinjaman bilateral. Pemerintah tetap menerbitkan surat utang melalui mekanisme pasar.
Menurutnya, diversifikasi tersebut dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh sumber pendanaan dengan biaya yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Yield Obligasi Negara Maju Naik, Arus Modal ke RI Terancam Tertekan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














