Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan pasar Surat Berharga Negara (SBN) tetap menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Meski imbal hasil (yield) obligasi pemerintah meningkat, minat investor asing terhadap SBN Indonesia dinilai masih tetap kuat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa selaku Ketua KSSK mengatakan, kenaikan yield SBN dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
"Peningkatan yield dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global sehingga memicu risk off investor di pasar SBN," ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala III KSSK, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Prabowo Serahkan Mekanisme Penetapan PPHN kepada MPR
Ia menjelaskan, yield SBN seri acuan tenor 10 tahun naik 31 basis poin (bps) secara kuartalan menjadi 7,14% pada akhir kuartal II-2026. Meski demikian, arus modal asing ke pasar obligasi domestik masih mencatatkan kinerja positif.
Purbaya mengungkapkan, sepanjang kuartal II-2026 investor nonresiden masih membukukan pembelian bersih (net buy) SBN sebesar Rp 32,09 triliun atau Rp 6,99 triliun secara year to date (ytd). Hingga 30 Juli 2026, investor asing kembali mencatatkan net buy sebesar Rp 6,36 triliun secara month to date (mtd) atau Rp 13,35 triliun secara ytd. Pada periode tersebut, yield SBN tenor 10 tahun kembali meningkat menjadi 7,29%.
"Di tengah berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak mentah dunia, kenaikan yield obligasi pemerintah juga dialami sejumlah negara berkembang," kata Purbaya.
Ia menambahkan, sejak awal tahun kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga terjadi di berbagai negara berkembang, antara lain Turki sebesar 524 bps, Filipina 148 bps, Brasil 106 bps, Korea Selatan 92 bps, Polandia 59 bps, dan Afrika Selatan 55 bps. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan di pasar obligasi merupakan fenomena global, bukan hanya dialami Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
