Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi negara maju menjadi salah satu perhatian di pasar keuangan global. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit selisih imbal hasil antara US Treasury dan obligasi pemerintah Indonesia.
Sebagaimana diketahui, tekanan di pasar keuangan domestik terlihat dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun. Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,229%, dari 6,990% pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Kenaikan yield SBN tersebut terjadi di tengah tekanan pasar keuangan global setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menilai kenaikan yield US Treasury berpotensi mempersempit selisih imbal hasil dengan surat berharga negara (SBN) Indonesia.
Kondisi tersebut dapat mempengaruhi arah aliran modal asing ke Indonesia. Sebab, ketika yield US Treasury meningkat sementara yield SBN tidak bergerak sebanding, spread atau selisih imbal hasil kedua instrumen tersebut akan semakin menipis.
Baca Juga: Danantara Tunda Terbitkan Obligasi Dolar, Investor Minta Yield Lebih Tinggi
“Kalau yield meningkat, tentu saja spread antara 10 tahun US Treasury dan juga kemudian 10-year Indonesia government bond itu akan relatif semakin menipis. Dan ini tentu saja akan berdampak kepada arah dari capital flows. Dari yang ke Indonesia atau bahkan sebaliknya,” ujar Andry dalam agenda Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability, Kamis (3/9/2026).
Andry mengatakan, kenaikan yield obligasi tidak hanya terjadi di Amerika Serikat (AS), tetapi juga di Jepang dan sejumlah negara Eropa. Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan adanya perhatian terhadap inflasi, situasi geopolitik, serta prospek harga minyak dunia.
Andry mengatakan, kenaikan yield obligasi di negara-negara maju, baik AS, Jepang maupun sejumlah negara Eropa, mengindikasikan adanya perhatian terhadap inflasi, situasi geopolitik, dan prospek harga minyak dunia yang akan kembali menekan perkembangan pasar finansial di negara berkembang.
Menurut Andry, perkembangan pasar keuangan hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada data ekonomi yang keluar. Perubahan probabilitas kenaikan suku bunga AS juga akan bergantung pada perkembangan angka inflasi.
Andry mengatakan, setelah pernyataan tersebut situasi berubah dan perkembangan pasar hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada data yang keluar setiap bulan. Menurutnya, perubahan probabilitas kenaikan Fed Fund Rate juga akan sangat bergantung pada angka inflasi yang keluar setiap bulan dan menjadi acuan bagi pasar.
Di sisi domestik, Andry melihat rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.700 per dollar AS. Namun, dia mengingatkan adanya tantangan dari sisi transaksi berjalan atau current account.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Diprediksi Naik Jadi 7,35% pada Akhir 2026
“Dari sisi domestik, kalau kita lihat bagaimana tekanan terhadap Rupiah saat ini memang Rupiah relatif stabil di kisaran Rp 17.700 karena tadi kalau kita lihat terjadi pelemahan dari USD Indeks dan berdampak kepada pelemahan USD juga namun yang perlu kita waspadai tentunya tantangan dari sisi current accountnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Andry juga menyoroti pelebaran defisit transaksi berjalan, terutama ketika surplus neraca perdagangan barang semakin mengecil.
Andry mengatakan, Indonesia perlu mewaspadai pelebaran defisit transaksi seiring dengan semakin mengecilnya surplus neraca perdagangan barang. Menurutnya, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 telah mencapai 3,3%.
Menurutnya, mengecilnya surplus neraca perdagangan barang akan membuat surplus tersebut semakin tidak mampu menutup defisit pada neraca jasa dan primary income.
“Kalau neraca perdagangan barangnya kemudian surplusnya mengecil, tentu saja belum semakin besar dan semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar,” ujarnya.
Andry mengatakan, defisit transaksi berjalan yang semakin besar perlu ditutup dengan surplus pada neraca finansial.
Andry mengatakan, semakin besarnya defisit transaksi berjalan perlu diimbangi dengan surplus yang besar pada neraca finansial.
Menurut Andry, stabilitas rupiah juga akan ditopang oleh seberapa besar aliran modal yang masuk ke Indonesia. Aliran tersebut berasal dari investasi langsung maupun investasi portofolio, terutama di pasar saham dan obligasi.
“Bagaimana kalau kita lihat tentu saja ketahanan dari sisi atau stabilitas rupiah tentu saja akan juga ditopang dari seberapa besar yang neraca aliran modal itu masuk ke Indonesia kita lihat tentu saja dukungannya ada di direct investment plus juga dari portfolio investment terutama di pasar saham dan juga pasar obligasi,” pungkas Andry.
Baca Juga: Permintaan Obligasi Danantara Tinggi & Yield Rendah Karena Jalankan Agenda Negara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














