kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

PLN: Tarif Boleh Turun Asal Subsidi Bertambah


Minggu, 11 Januari 2009 / 14:16 WIB
PLN: Tarif Boleh Turun Asal Subsidi Bertambah


Reporter: Gentur Putro Jati |

JAKARTA. PT PLN (Persero) menyanggupi penurunan tarif dasar listrik (TDL) asalkan subsidi listrik yang digelontorkan pemerintah diperbesar.

Setio Anggoro Dewo, Direktur Keuangan PLN bilang kalau pemerintah tidak menambah duit subsidi maka perusahaan akan bertambah kerugiannya. Makanya untuk mengurangi kerugian tersebut PLN akan memperkuat neraca keuangannya.

Dalam catatan Dewo, saat ini biaya pokok produksi (BPP) listrik Rp 1.300 per kwh. Namun di jual ke masyarakat dengan harga Rp 650 per kwh. Sehingga subsidi yang diberikan pemerintah adalah sebesar separuh dari BPP tersebut.

"Kalau harga jualnya mau turun, berarti harus ada dana untuk menutup selisih yang semakin besar," kata Dewo, Jumat (9/1). Makanya salah satu alternatif untuk menutupi selisih yang semakin besar adalah dengan menambah subsidi.

Sebelumnya, Pemerintah meminta PLN untuk menurunkan TDL untuk dapat mendongkrak pertumbuhan perekonomian. Pasalnya kebijakan menurunkan harga BBM bersubsidi sebanyak dua kali yang diambil pemerintah ternyata tidak banyak mendongkrak ekonomi. Lucunya, selama ini PLN tidak berniat menurunkan TDL tetapi justru berencana menaikkannya pada 2010.

Ditambahkan Dewo, saat ini manajemen masih menghitung besarnya tambahan subsidi yang diperlukan jika pemerintah benar-benar menurunkan TDL. Pastinya subsidi listrik yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 45,9 triliun dengan catatan domestic market obligation (DMO) batubara 30% bisa terealisasi. "Kalau tidak tercapai, Pemerintah harus menambah subsidi lagi Rp 5 triliun," tandasnya.

Tahun lalu realisasi subsidi listrik hanya sebesar Rp 75 triliun, dari yang dianggarkan Rp 83 triliun. "Lebih rendah karena pemerintah memotongnya untuk memenuhi anggaran pendidikan 20%," kata Dewo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×