kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

PKS & PPP beda sikap soal BBM, koalisi terancam?


Jumat, 31 Mei 2013 / 15:35 WIB
ILUSTRASI. Sebagai imbas dari kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT), harga rokok bakalan ikut terkerek mulai 1 Januari 2022. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay


Reporter: Adhitya Himawan |

JAKARTA. Sekretariat Gabungan Koalisi Pemerintahan SBY-Boediono mulai menunjukkan gejala perpecahan. Fraksi PPP menyatakan setuju dengan rencana pemerintah menaikkan BBM bersubsidi. Ini berbanding terbalik dengan Fraksi PKS yang sudah memastikan menolak.

Kepada KONTAN, Jumat, (31/5), Ketua Fraksi PPP Hazrul Azwar memastikan sikap PPP tidak akan berubah. PPP tetap mendukung kebijakan pemerintah menaikkan BBM bersubsidi dalam waktu dekat.

Alasannya, pasal 8 Ayat 1 UU No 19 Tahun 2012 tentang APBN 2013 sudah menjamin bahwa kewenangan menaikkan BBM memang domain pemerintah. "Selain itu, jika tidak dinaikkan, postur APBN akan jebol karena defisit semakin melebar,"kata Hazrul.

Hazrul membantah sikap PPP merupakan bentuk ketidakpedulian pada rakyat. Mengenai dampak kenaikan BBM, berat atau tidaknya bersifat relatif tergantung taraf ekonomi setiap warga. Pemerintah pun sudah memberikan BLSM untuk menaikkan daya beli masyarakat yang menurun akibat kenaikan inflasi. "Program BLSM tidak bisa disebut tidak mendidik karena sifatnya cuma sementara," pungkas Hazrul.

Sikap PPP ini bertolak belakang dengan PKS. Anggota DPR RI Fraksi PKS Mahfud Sidiq telah menegaskan sikap Fraksi PKS setelah melalui rapat pleno. Dalam keterangannya, Mahfud menegaskan PKS akan menolak rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Penolakan ini didasari juga oleh kekecewaan PKS karena usulan untuk menaikkan harga gas tak digubris.

Namun Mahfud menegaskan, perbedaan sikap tak perlu dikaitkan dengan posisi koalisi. Sebab persoalan ini menyangkut aspirasi rakyat yang terkait kebijakan pemerintah. "Itu (koalisi) memaksakan untuk ikut satu suara,"ujar Mahfud di Gedung DPR, Jumat, (31/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×