kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.821   -84,00   -0,50%
  • IDX 8.385   113,66   1,37%
  • KOMPAS100 1.181   16,73   1,44%
  • LQ45 846   10,69   1,28%
  • ISSI 299   4,21   1,43%
  • IDX30 444   7,06   1,62%
  • IDXHIDIV20 529   6,75   1,29%
  • IDX80 132   1,69   1,30%
  • IDXV30 144   1,26   0,88%
  • IDXQ30 142   1,95   1,39%

Pertumbuhan Uang Beredar di Tahun Ini Diproyeksi Tetap Tinggi, Ini Syaratnya


Senin, 23 Februari 2026 / 13:02 WIB
Pertumbuhan Uang Beredar di Tahun Ini Diproyeksi Tetap Tinggi, Ini Syaratnya
ILUSTRASI. Uang beredar (M2) Januari 2026 melonjak 10,0% yoy, tertinggi dibanding bulan sebelumnya. Cek potensi keuntungan dan risiko yang mengintai ekonomi


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 sebesar Rp 10.117,8 triliun, atau tumbuh sebesar 10,0% year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,6% YoY.

Peningkatan M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede membeberkan, di sisi komposisi, akselerasi M2 juga ditopang oleh uang beredar sempit yang tumbuh jauh lebih tinggi daripada uang kuasi, sehingga memberi sinyal bahwa likuiditas transaksi di perekonomian sedang membesar, bukan hanya simpanan berjangka yang bertambah.

Pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar Rp 5.923,3 triliun atau tumbuh 14,9% YoY, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 14% YoY, serta uang kuasi mencapai Rp 4.148 triliun atau tumbuh 5,4% yoy, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 5,6% YoY.

Ke depan, Josua memperkirakan laju pertumbuhan M2 masih berpeluang bertahan di kisaran tinggi bila dua mesin utamanya tetap berjalan yakni ekspansi likuiditas otoritas moneter dan pertumbuhan kredit.

Baca Juga: Targetkan Belanja Kuartal I-2026 Rp 809 Triliun, Purbaya Optimistis Ekonomi Tumbuh 6%

Adapun BI masih menahan suku bunga acuannya di 4,75% dan melanjutkan bauran yang mendorong likuiditas, antara lain lewat pengelolaan instrumen moneter dan dukungan insentif likuiditas untuk penyaluran kredit. Dengan kebijakan  tersebut BI dinilai memastikan pasokan uang tetap cukup untuk mendukung kredit dan aktivitas ekonomi.

“Namun, stabil atau tidaknya tetap akan sangat bergantung pada ritme operasi keuangan pemerintah seperti pola belanja, penarikan pembiayaan, dan penempatan kas, serta respons dunia usaha dalam merealisasikan kredit menjadi belanja modal dan produksi riil,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (23/2/2026).

Lebih lanjut, Josua membeberkan, terdapat tiga hambatan utama yang mengganggu laju pertumbuhan M2. Pertama, guncangan eksternal yang memicu tekanan nilai tukar dan arus modal bisa membuat otoritas lebih memilih menahan atau menyerap likuiditas agar stabilitas terjaga.

“Dalam situasi seperti ini, M2 biasanya melambat karena penyaluran likuiditas dibuat lebih selektif,” ungkapnya.

Kedua, hambatan dari sisi transmisi suku bunga. Ia menilai  suku bunga acuan sudah turun dan likuiditas ditambah, penurunan suku bunga kredit perbankan sering lebih lambat sehingga biaya pinjaman masih terasa berat bagi sebagian pelaku usaha, sehingga akibatnya permintaan kredit bisa tidak sekuat yang diharapkan.

Ketiga, faktor kehati-hatian dari sisi pelaku usaha. Misalnya  masih besarnya plafon kredit yang belum ditarik atau kredit yang belum dicairkan menunjukkan sebagian debitur belum mengeksekusi rencana belanja atau investasinya, sehingga pertumbuhan uang beredar dari jalur kredit tidak otomatis mengalir deras ke aktivitas riil.

Sejalan dengan itu, ia juga menilai, apabila M2 terus tumbuh, dampaknya bisa sangat positif selama pertumbuhannya sejalan dengan kapasitas produksi dan kebutuhan transaksi, konsumsi rumah tangga lebih mudah dibiayai, dunia usaha lebih leluasa menambah persediaan dan investasi, serta perbankan punya ruang memperkuat pembiayaan sektor produktif.

Baca Juga: Efek Perbaikan Manajemen, Restitusi Pajak Turun 23% pada Januari 2026

Akan tetapi, menurutnya bila M2 tumbuh terlalu cepat dibanding pertambahan barang dan jasa yang diproduksi, risikonya bergeser menjadi tekanan kenaikan harga, penguatan permintaan impor yang menekan ketahanan eksternal, serta kenaikan harga aset yang tidak selalu diikuti perbaikan kinerja sektor riil.

“Karena itu, yang paling menentukan bukan hanya besarnya M2, melainkan kualitas penyalurannya namun apakah likuiditas terutama masuk ke kredit investasi dan kegiatan produktif, atau justru menumpuk sebagai dana menganggur dan mendorong spekulasi,” tandasnya.

Selanjutnya: Buka Puasa Samarinda 23 Februari 2026: Cek Waktu Magrib Pasti

Menarik Dibaca: Promo Payday Starbucks & Chatime Tebar Diskon Spesial hingga Bundling Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×