Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) melihat ruang peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) bakal lebih terbatas dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) siang ini.
Pasalnya, kata Ketua Umum Perbanas Herry Gunardi, BI sendiri sudah terbilang masif menaikkan BI Rate belakangan ini. "Sepertinya enggak (naik), udah kayaknya enggak (naik lagi). Udah beberapa kali naik kan, jumping," kata Herry saat ditemui di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Tak jauh berbeda, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Aviliani bilang, saat ini kenaikan suku bunga acuan berisiko menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan. Apalagi, industri menghadapi tantangan likuiditas yang perlu menjadi perhatian.
Baca Juga: DPR Pesimistis Usulan Tambahan Anggaran Kemenpar Senilai Rp 1,99 Triliun Disetujui
Di antaranya momentum penarikan dana saldo anggaran lebih (SAL) pada kuartal III mendatang.
Mengingatkan saja, Himbara mendapatkan total kisaran Rp 200 triliun dana SAL sebagai likuiditas tambahan pada September 2025 lalu. Namun, dana ini berbentuk deposito on call yang perlu disetor balik kepada pemerintah dengan tenor satu tahun.
Mengingat dana sudah seluruhnya disalurkan dalam bentuk kredit, Himbara bakal memerlukan dana tambahan untuk menyetor balik ke pemerintah.
Nah, dalam kondisi likuiditas yang ketat, pada gilirannya bank perlu memberikan tawaran bunga yang kompetitif untuk menjaring dana. Itu menjadi hal yang tak terhindarkan, menurut Aviliani.
Konsekuensinya, biaya dana bank bakal meningkat dan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bakal tertekan.
"BI Rate enggak naik pun bunga dana naik," kata Aviliani dalam kesempatan yang sama.
Namun, secara umum Aviliani melihat kenaikan BI Rate tak terhindarkan. Ia mengacu pada spread dengan suku bunga The Fed yang masih relatif kecil, kisaran 2%. Secara teoretis, BI perlu mengerek BI Rate ke posisi yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Eksekusi Eks Hotel Sultan Ricuh, Massa Lempari Petugas
Hanya saja, kembali lagi, kenaikan BI Rate lebih lanjut berpotensi menjegal pertumbuhan kinerja. Tanpa kenaikan BI Rate pun, biaya dana perbankan saat ini sudah terbilang tinggi.
"Ini kan masalahnya antara stabilitas dengan pertumbuhan," tutur Aviliani.
Sejak awal tahun ini, BI telah menaikkan suku bunga hingga 75 bps. Hari ini, Kamis (18/6/2026), konferensi pers RDG BI bakal digelar dan ketentuan BI Rate terkini bakal diumumkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













