kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Surplus Neraca Dagang RI Berpeluang Kembali, Tapi Diperkirakan Tak Sebesar Sebelumnya


Senin, 03 Agustus 2026 / 19:40 WIB
Surplus Neraca Dagang RI Berpeluang Kembali, Tapi Diperkirakan Tak Sebesar Sebelumnya
ILUSTRASI. Neraca Dagang Kembali Defisit pada Juni 2026 (AI/ChatGPT/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca perdagangan Indonesia yang sudah berlangsung dua bulan beruntun yakni Mei dan Juni 2026 diperkirakan tidak akan berlangsung berkepanjangan.

Defisit neraca perdagangan tersebut dinilai lebih dipengaruhi oleh lonjakan impor migas akibat kenaikan harga minyak dunia dibanding melemahnya fundamental sektor eksternal.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz menilai, apabila harga minyak dunia terus menurun seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, defisit neraca perdagangan migas berpotensi menyempit. Kondisi ini akan membuka peluang bagi neraca perdagangan Indonesia untuk kembali mencatat surplus.

"Ke depan, apabila harga minyak dunia terus menurun seiring deeskalasi konflik geopolitik dan berkurangnya premi risiko energi, defisit neraca migas berpotensi menyempit, sehingga neraca perdagangan berpeluang kembali mencatat surplus," ujar Faiz kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: BPS Catat Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$ 0,45 Miliar Pada Juni 2026

Meski demikian, ia memperkirakan surplus tersebut tidak akan sebesar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, impor barang modal dan bahan baku diperkirakan tetap tinggi sejalan dengan berlanjutnya investasi hilirisasi, pembangunan infrastruktur, serta proyek strategis nasional.

Menurutnya, defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut menunjukkan bantalan eksternal Indonesia tidak lagi sekuat beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, ia belum melihat kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa Indonesia akan terus mengalami defisit perdagangan setiap bulan.

Ia menjelaskan, pelebaran defisit pada Mei dan Juni terutama berasal dari neraca migas yang tertekan lonjakan harga minyak dunia setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak secara langsung memperbesar nilai impor migas, sementara neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus.

Faiz juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap sektor eksternal masih perlu diwaspadai. Permintaan investasi yang tetap kuat diperkirakan akan menjaga impor barang modal dan bahan baku pada level tinggi, meskipun penurunan harga energi global secara bertahap dapat mengurangi nilai impor migas.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi China sebagai tujuan ekspor terbesar Indonesia berpotensi membatasi pertumbuhan ekspor. Kenaikan harga asam sulfat yang menjadi bahan baku utama bagi industri pertambangan, perkebunan, dan kimia juga dapat menambah tekanan terhadap kinerja ekspor.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Juni Diproyeksi Masih Defisit, Lonjakan Impor Jadi Pemicu

"Akibatnya, neraca eksternal Indonesia kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan, sehingga membatasi potensi penguatan rupiah meskipun harga energi global lebih kondusif," katanya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar US$ 0,45 miliar, menyempit dibandingkan defisit US$ 1,70 miliar pada Mei 2026.

Pada Juni 2026, nilai ekspor tercatat US$ 25,45 miliar, naik 8,79% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, impor mencapai US$ 25,90 miliar, melonjak 34,30% yoy, sehingga menyebabkan neraca perdagangan kembali berada di zona defisit untuk bulan kedua berturut-turut.

Defisit tersebut terutama berasal dari neraca perdagangan migas, sedangkan neraca nonmigas masih membukukan surplus. Tingginya impor barang modal dan bahan baku juga mencerminkan aktivitas investasi dan produksi domestik yang masih kuat.

Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×