Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pengecualian, terutama jika mencakup China sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia untuk komoditas seperti batu bara dan nikel, berpotensi mengurangi dana devisa yang masuk ke sistem keuangan domestik.
Semakin besar nilai perdagangan yang dikecualikan, semakin terbatas pula kemampuan kebijakan DHE dalam menarik likuiditas valas ke dalam negeri.
Yusuf juga mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan jika perbedaan perlakuan hanya didasarkan pada negara tujuan ekspor.
Baca Juga: Siapkan SBN Valas untuk Tampung Pundi DHE SDA
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuka peluang rekayasa transaksi melalui perusahaan perantara atau perubahan administrasi perdagangan demi memperoleh fasilitas relaksasi.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira.
Ia menilai perlakuan khusus terhadap negara tertentu berpotensi menimbulkan persoalan konsistensi regulasi sekaligus memicu praktik trade diversion, yakni pengalihan jalur perdagangan dengan mengekspor barang terlebih dahulu ke negara yang memperoleh pengecualian sebelum diteruskan ke tujuan akhir.
Menurut Bhima, potensi celah tersebut perlu diantisipasi agar tujuan utama kebijakan DHE SDA tidak melemah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














