Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) ke level di atas 7% berpotensi menekan nilai pasar portofolio SBN yang dimiliki Bank Indonesia (BI).
Namun, tekanan tersebut belum serta-merta menjadi kerugian yang direalisasikan atau mengganggu neraca bank sentral.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, kepemilikan BI atas SBN per September 2026 mencapai 27,77%, dengan nilai nominal Rp 1.942,81 triliun.
Baca Juga: Yield SBN Tembus 7,2% Usai BI Rate Naik, Ini Sinyal Risiko Pasar RI
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, kenaikan yield SBN tenor 10 tahun dari sekitar 6,99% hingga sempat menyentuh 7,23% mencerminkan repricing di pasar sekunder.
Namun, yield kemudian kembali melandai ke sekitar 7,10% pada Jumat (4/9/2026).
"Yield SBN di atas 7% memang menurunkan nilai pasar portofolio BI, tetapi perlu dibedakan antara unrealized loss dan realized loss," kata Irman kepada KONTAN, Minggu (6/9).
Kenaikan yield menyebabkan harga obligasi turun sehingga secara valuasi BI berpotensi mencatat unrealized loss. Namun, selama SBN tersebut tidak dijual pada harga yang lebih rendah, penurunan nilai tersebut belum menjadi kerugian yang direalisasikan.
Di sisi lain, BI tetap memperoleh pendapatan dari kupon SBN yang dimilikinya. Karena itu, penurunan nilai pasar akibat kenaikan yield tidak otomatis berarti terjadi arus kas keluar atau kerugian kas bagi bank sentral.
Baca Juga: Yield SBN Tembus 7,4%, Investor Bisa Mulai Akumulasi Bertahap
Irman menilai kenaikan yield SBN saat ini belum menjadi persoalan serius bagi neraca BI. Secara fundamental, neraca bank sentral dinilai masih memiliki bantalan yang cukup untuk menyerap fluktuasi valuasi aset.
Pada akhir 2024, BI tercatat memiliki aset sekitar Rp 4.421 triliun dan akumulasi surplus sekitar Rp 364 triliun, termasuk cadangan umum sekitar Rp 286 triliun. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia masih berada di sekitar US$ 145 miliar per Juli 2026.
Untuk mengurangi risiko valuasi, BI dapat mengelola durasi dan komposisi portofolio SBN. Menurut Irman, koordinasi antara BI dan pemerintah juga penting agar kenaikan yield tidak berkembang menjadi tekanan yang bersifat struktural di pasar SBN.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual berpandangan serupa. Menurut dia, penurunan harga obligasi memang dapat menggerus modal BI apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Tembus 7%, Investor Cermati Risiko Fiskal dan Gejolak Global
Namun, dampaknya tidak serta-merta terasa karena SBN pada umumnya dapat dipertahankan hingga jatuh tempo.
"Obligasi tersebut biasanya dipegang sampai jatuh tempo sehingga tidak langsung mempengaruhi modal," kata David kepada KONTAN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














