kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Menyebar, Bisa Bertahan Berhari-hari di Atmosfer


Senin, 07 September 2026 / 06:14 WIB
Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Menyebar, Bisa Bertahan Berhari-hari di Atmosfer
ILUSTRASI. Konsentrasi abu akan berkurang secara bertahap melalui pengendapan gravitasi, pencampuran di atmosfer dan presipitasi. (BMKG/BMKG)


Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau luas pada Senin (7/9/2026) pagi. Analisis citra satelit Himawari-9 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 04.00 WIB menunjukkan dua klaster sebaran abu dengan ketinggian dan arah berbeda.

Klaster pertama teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki dan teramati ke arah tenggara–barat laut. Sebaran ini meliputi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten beserta perairan di sekitarnya.

Sementara klaster kedua teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki dan teramati ke arah barat daya–barat, mencakup Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung dan Banten.

Citra tersebut merupakan produk Himawari-9 VA dengan waktu pengamatan 6 September 2026 pukul 21.00 UTC atau 7 September 2026 pukul 04.00 WIB. Analisisnya menggunakan informasi aktivitas gunung api dari PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin.

Sehari sebelumnya, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu dengan pola berbeda. Abu hingga ketinggian 20.000 kaki teramati ke arah timur laut hingga selatan, sedangkan abu hingga 50.000 kaki teramati ke arah barat daya hingga barat laut.

Perbedaan arah pada ketinggian berbeda menunjukkan kondisi angin tidak seragam di seluruh lapisan atmosfer. Akibatnya, abu vulkanik dapat membentuk jalur sebaran yang berbeda menurut ketinggiannya.

Baca Juga: 4 Gunung Api Di Indonesia Erupsi Di Hari Sama, Minggu (6/9), Apakah Mereka Berkaitan?

Abu vulkanik bisa bertahan berhari-hari

Lama abu vulkanik bertahan di atmosfer tidak dapat ditentukan dengan satu angka. Durasi tersebut dipengaruhi ukuran partikel, ketinggian, kondisi angin, kelembapan, serta proses pengendapan dan hujan.

US Geological Survey (USGS) menjelaskan awan abu vulkanik dapat bertahan pada ketinggian jelajah pesawat selama beberapa hari hingga beberapa pekan. Partikel berukuran kecil dapat terbawa angin dalam jarak jauh sebelum akhirnya mengendap atau tersapu hujan.

Partikel yang lebih besar umumnya mengendap lebih cepat akibat gravitasi. Sebaliknya, partikel sangat halus dapat tetap tersuspensi lebih lama dan menyebar lebih jauh.

Karena itu, berakhirnya erupsi tidak serta-merta menghilangkan abu dari atmosfer. Konsentrasi abu akan berkurang secara bertahap melalui pengendapan gravitasi, pencampuran di atmosfer dan presipitasi.

Namun, bertahannya abu di atmosfer selama beberapa hari hingga pekan tidak berarti suatu wilayah akan terus mengalami hujan abu selama periode tersebut. Abu yang masih berada di atmosfer harus dibedakan dari abu yang telah mencapai permukaan.

Baca Juga: Prabowo Imbau Masyarakat Tetap Tenang & Waspada Hadapi Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×