kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

4 Gunung Api Di Indonesia Erupsi Di Hari Sama, Minggu (6/9), Apakah Mereka Berkaitan?


Senin, 07 September 2026 / 04:20 WIB
4 Gunung Api Di Indonesia Erupsi Di Hari Sama, Minggu (6/9), Apakah Mereka Berkaitan?
ILUSTRASI. INDONESIA-VOLCANO/ (via REUTERS/PVMBG)


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Empat gunung berapi di Indonesia erupsi pada hari sama, Minggu 6 September 2026. Apakah gunung berapi tersebut saling berkaitan, sehingga erupsi bersamaan?

Aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah gunung api bahkan tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan pada Minggu (6/9/2026), di antaranya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara. 

Dirangkum dari laman resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, berikut penjelasan singkat empat gunung api yang erupsi:

1. Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta hasil analisis RGB Citra Himawari-9, melaporkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua arah.

Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya. Sementara itu, sebaran kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. 

Abu vulkanik terpantau mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

2. Gunung Semeru

Gunung Semeru di Jawa Timur erupsi pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.51 WIB. Tinggi kolom abu akibat erupsi tersebut teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. 

Berdasarkan laporan Badan Geologi, erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik. Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," demikian dikutip dari laman Badan Geologi, Minggu (6/9/2026).

3. Gunung Ibu

Gunung Ibu di Provinsi Maluku Utara dilaporkan mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pukul 04.55 WIT. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat tinggi kolom letusan mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut.

Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 35 detik. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah timur laut. 

4. Gunung Ili Lewotolok

Gunung Api Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, juga kembali mengalami serangkaian erupsi dalam 48 jam terakhir. Letusan terkuat tercatat pada Minggu (6/9/2026) pukul 06.41 WITA. Kolom abu akibat erupsi tersebut teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau setara dengan 2.023 meter di atas permukaan laut. 

Tonton: BREAKING NEWS! UPDATE DAMPAK ERUPSI ANAK KRAKATAU UTAMAKAN KESELAMATAN

Tidak Ada Jalur Magma yang Menghubungkan Antargunung

Menanggapi fenomena tersebut, Ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa erupsi simultan ini merupakan manifestasi dari dinamika tektonik global di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

"Fenomena erupsi simultan pada 4 gunung api di Indonesia pada 6 September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu merupakan manifestasi dinamika tektonik global di wilayah ring of fire," ujar Daryono dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Minggu (6/9/2026).

Baca Juga: BI Pegang Hampir 28% Surat Utang Pemerintah, Yield Tinggi Berisiko Tekan Modal

Lebih lanjut, Daryono memaparkan bahwa Indonesia berada di zona konvergensi tektonik yang kompleks, tempat bertemunya dan menunjamnya sejumlah lempeng bumi seperti Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina di bawah Lempeng Eurasia.

Meskipun keempat gunung api tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas secara bersamaan, kondisi itu tidak berarti bahwa erupsi satu gunung memicu erupsi gunung lainnya. Secara geologi, tidak terdapat mekanisme berupa "jalur pipa" atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma (magma chamber) antargunung tersebut.

Erupsi yang terjadi berdekatan murni berkaitan dengan kondisi masing-masing sistem vulkanik yang telah mengalami akumulasi tekanan fluida dan magma hingga mencapai tahap kritis.

Tonton: PPPK Guru Bakal Jadi Pegawai Pemerintah Pusat? Ini Nasib Guru Paruh Waktu dan Anggarannya

Variasi Dampak dan Sebaran Abu Vulkanik

Perbedaan karakter erupsi turut memengaruhi seberapa jauh material dan abu vulkanik dapat tersebar. Sebagai contoh, erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak sangat luas karena abu vulkaniknya terbawa angin hingga mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Kondisi ini mengindikasikan materialnya mampu mencapai lapisan troposfer dan terbawa sirkulasi angin regional.

Sementara itu, erupsi Gunung Semeru (kolom abu sekitar 1.000 meter), Gunung Ili Lewotolok (sekitar 600 meter), dan Gunung Ibu (sekitar 400 meter) memiliki karakter sebaran yang lebih terbatas di sekitar kawah. Menurut Daryono, tinggi kolom abu dipengaruhi oleh kekuatan tekanan gas di dalam saluran magma (conduit), gaya apung termal (thermal buoyancy), serta kandungan silika (SiO2) dan gas volatil (H2O, CO2​, SO2) di dalam magma.





Sebagian artikel tayang di https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/06/190100465/4-gunung-api-erupsi-bersamaan-apakah-saling-berkaitan-ini-kata-pakar?page=all#page2. 


 

Imbauan Gubernur Jakarta, Waspada Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×