kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Pengamat: SKB moratorium sia-sia


Minggu, 02 Maret 2014 / 09:28 WIB
ILUSTRASI. Tanaman yang Baik untuk Kesehatan Mata


Sumber: Kompas.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai Surat kesepakatan bersama (SKB) tentang kepatuhan ketentuan pelaksanaan kampanye melalui media penyiaran sia-sia karena hanya mengulangi yang sudah diatur undang-undang. Yang dibutuhkan bukan penetapan moratorium, melainkan penegakan hukum yang tegas.

"Yang dibutuhkan dan diperlukan bukan moratorium tapi penegakan hukum atas mereka yang melanggar. Mereka mengikat objek lain dengan larangan yang memang dasarnya sudah dilarang," ujar Ray di Jakarta, Sabtu (1/3/2014).

Menurutnya, isi SKB tersebut sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif. Dia mengatakan, saat ini sudah banyak iklan politik dan iklan kampanye di media massa karena tidak ada ketegasan penegakan hukum, baik dari Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) maupun Komisi Pemyiaran Indonesia (KPI).

Ray menuturkan, SKB tersebut juga menjadi mubazir karena pihak yang seharusnya diatur oleh SKB ternyata tidak ikut menandatanganinya. "SKB itu juga tidak memberi kejelasan apa yg diikat oleh mereka (pihak yang bersepakat), diri mereka atau objek lainnya," kata dia.

Sebelumnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan Komisi Informasi Pusat (KIP) menandatangani SKB tentang kepatuhan ketentuan pelaksanaan kampanye melalui media penyiaran. Selain menetapkan moratorium iklan politik dan kampanye, SKB itu juga mewajibkan lembaga penyiaran dan peserta pemilu menaati batas maksimum iklan kampanye.

Dalam SKB, gugus tugas juga melarang lembaga penyiaran pemberitaan, rekam jejak atau program yang mengandung unsur kampanye, iklan kampanye, dan hasil survei atau jajak pendapat tentang elektabilitas peserta pemilu. ((Deytri Robekka Aritonang)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×