Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah mematok target penerimaan Bea Masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp 54,51 triliun. Target tersebut hanya tumbuh 2,7% dibandingkan outlook penerimaan Bea Masuk pada 2026.
Target tersebut tercantum dalam Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN 2027. Pemerintah memperkirakan penerimaan Bea Masuk masih akan menghadapi dinamika perdagangan internasional, perkembangan ekonomi global dan domestik, serta arah kebijakan perdagangan.
Dalam laporan tersebut, penerimaan Bea Masuk diperkirakan kembali mengalami pertumbuhan pada 2026 sebesar 5,7%. Pemulihan tersebut ditopang oleh membaiknya prospek perekonomian global dan domestik yang mendorong peningkatan aktivitas impor.
Baca Juga: Rokok Murah Makin Diminati, Penerimaan Cukai 2027 Hanya Naik 0,4% dari Outlook 2026
Khususnya, peningkatan impor diperkirakan berasal dari bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung investasi serta kegiatan industri.
"Penerimaan Bea Masuk dalam RAPBN Tahun 2027 diperkirakan mencapai sebesar Rp5 4.509,4 miliar atau tumbuh 2,7% dibandingkan outlook tahun 2026," dikutip dari laporan tersebut, Jumat (21/8/2026).
Pemerintah juga memperkirakan optimalisasi pengawasan kepabeanan berbasis manajemen risiko, penyempurnaan layanan melalui digitalisasi, serta peningkatan kepatuhan pengguna jasa dapat memperkuat efektivitas pemungutan Bea Masuk.
Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan penerimaan tanpa menghambat kelancaran arus barang.
Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, kinerja Bea Masuk cukup dipengaruhi oleh kondisi perdagangan dan aktivitas impor.
Pada 2022, penerimaan Bea Masuk tumbuh signifikan 30,6% seiring meningkatnya permintaan domestik, tingginya harga komoditas, serta pemulihan aktivitas impor.
Baca Juga: Fenomena Downtrading Jadi Tantangan Penerimaan Cukai pada 2027
Namun, pada 2023 penerimaan Bea Masuk mengalami kontraksi 0,4% akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan nilai impor sejumlah komoditas utama. Kinerja kemudian kembali membaik pada 2024 dengan pertumbuhan 4,1%.
Memasuki 2025, penerimaan Bea Masuk kembali terkontraksi 5,3%. Pemerintah menyebut penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya permintaan impor bahan baku dan bahan penolong seiring moderasi aktivitas ekonomi domestik.
Selain itu, kebijakan perdagangan untuk mendukung ketahanan pangan dan upaya swasembada turut mempengaruhi penerimaan Bea Masuk. Kinerja penerimaan juga terdampak kebijakan tarif impor yang diterapkan Pemerintah Amerika Serikat terhadap arus perdagangan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














