kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.724   -55,00   -0,31%
  • IDX 6.536   33,99   0,52%
  • KOMPAS100 849   6,62   0,79%
  • LQ45 644   5,15   0,81%
  • ISSI 229   0,48   0,21%
  • IDX30 360   3,28   0,92%
  • IDXHIDIV20 436   3,85   0,89%
  • IDX80 97   0,73   0,76%
  • IDXV30 121   0,49   0,41%
  • IDXQ30 114   0,98   0,87%

Penerimaan Bea Masuk 2027 Dipatok Rp 54,5 Triliun, Tumbuh 2,7% dari Outlook 2026


Jumat, 21 Agustus 2026 / 10:49 WIB
Penerimaan Bea Masuk 2027 Dipatok Rp 54,5 Triliun, Tumbuh 2,7% dari Outlook 2026
ILUSTRASI. Pemerintah mematok target penerimaan Bea Masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp 54,51 triliun. (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah mematok target penerimaan Bea Masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp 54,51 triliun. Target tersebut hanya tumbuh 2,7% dibandingkan outlook penerimaan Bea Masuk pada 2026.

Target tersebut tercantum dalam Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN 2027. Pemerintah memperkirakan penerimaan Bea Masuk masih akan menghadapi dinamika perdagangan internasional, perkembangan ekonomi global dan domestik, serta arah kebijakan perdagangan.

Dalam laporan tersebut, penerimaan Bea Masuk diperkirakan kembali mengalami pertumbuhan pada 2026 sebesar 5,7%. Pemulihan tersebut ditopang oleh membaiknya prospek perekonomian global dan domestik yang mendorong peningkatan aktivitas impor.

Baca Juga: Rokok Murah Makin Diminati, Penerimaan Cukai 2027 Hanya Naik 0,4% dari Outlook 2026

Khususnya, peningkatan impor diperkirakan berasal dari bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung investasi serta kegiatan industri.

"Penerimaan Bea Masuk dalam RAPBN Tahun 2027 diperkirakan mencapai sebesar Rp5 4.509,4 miliar atau tumbuh 2,7% dibandingkan outlook tahun 2026," dikutip dari laporan tersebut, Jumat (21/8/2026).

Pemerintah juga memperkirakan optimalisasi pengawasan kepabeanan berbasis manajemen risiko, penyempurnaan layanan melalui digitalisasi, serta peningkatan kepatuhan pengguna jasa dapat memperkuat efektivitas pemungutan Bea Masuk.

Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan penerimaan tanpa menghambat kelancaran arus barang.

Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, kinerja Bea Masuk cukup dipengaruhi oleh kondisi perdagangan dan aktivitas impor. 

Pada 2022, penerimaan Bea Masuk tumbuh signifikan 30,6% seiring meningkatnya permintaan domestik, tingginya harga komoditas, serta pemulihan aktivitas impor.

Baca Juga: Fenomena Downtrading Jadi Tantangan Penerimaan Cukai pada 2027

Namun, pada 2023 penerimaan Bea Masuk mengalami kontraksi 0,4% akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan nilai impor sejumlah komoditas utama. Kinerja kemudian kembali membaik pada 2024 dengan pertumbuhan 4,1%.

Memasuki 2025, penerimaan Bea Masuk kembali terkontraksi 5,3%. Pemerintah menyebut penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya permintaan impor bahan baku dan bahan penolong seiring moderasi aktivitas ekonomi domestik.

Selain itu, kebijakan perdagangan untuk mendukung ketahanan pangan dan upaya swasembada turut mempengaruhi penerimaan Bea Masuk. Kinerja penerimaan juga terdampak kebijakan tarif impor yang diterapkan Pemerintah Amerika Serikat terhadap arus perdagangan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×