kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Penerbitan SBN Perumahan Berisiko dan Tidak Mendesak, Ekonom Ungkap Penyebabnya


Minggu, 02 Maret 2025 / 16:15 WIB
Penerbitan SBN Perumahan Berisiko dan Tidak Mendesak, Ekonom Ungkap Penyebabnya
ILUSTRASI. Perumahan baru di Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (6/1/2024). Rencana pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) guna membiayai program pembangunan tiga juta rumah menuai kritik.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rencana pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) guna membiayai program pembangunan tiga juta rumah menuai kritik.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menilai bahwa kebijakan tersebut tidak mendesak dan justru dapat meningkatkan risiko bubble properti, khususnya di sektor perumahan kelas menengah ke bawah.

Ia memandang kondisi fiskal yang semakin ketat di tengah kebijakan penghematan anggaran membuat pemerintah harus mencari sumber alternatif untuk membiayai program-program ambisius, seperti melalui penerbitan utang baru.

Baca Juga: Ekonom Ungkap Ini yang Terjadi Jika Danantara Masuk ke Stritex dan GNI

"Jadi mau tidak mau kalau harus memaksakan tiga juga rumah dalam lima tahun ke depan ya harus setiap tahun menambah utang," ujar Ronny kepada Kontan.co.id, Minggu (3/2).

Hanya saja, ia mempertanyakan urgensi program tersebut dan menyatakan bahwa saat ini daya beli masyarakat masih menjadi persoalan utama.

Ronny menegaskan, pembangunan perumahan dalam jumlah besar tidak akan menyelesaikan masalah utama yaitu rendahnya daya beli masyarakat.

Ia khawatir bahwa kebijakan tersebut dapat berujung pada bubble properti, seperti yang terjadi dalam krisis finansial global di Amerika Serikat (AS) akibat subprime mortgage.

Lebih lanjut, Ronny menjelaskan bahwa meskipun surat utang negara kemungkinan tetap diminati investor karena profil risiko utang Indonesia masih tergolong rendah, ia lebih melihat aspek pengunaan utang tersebut.

Baca Juga: Keyakinan Konsumen Menurun pada Oktober 2024, Ekonom Ungkap Penyebabnya

"Backlog perumahan memang tinggi, tapi itu karena daya beli kita (rendah)," katanya.

Ia juga menyoroti kemungkinan intervensi Bank Indonesia (BI) dalam mendukung program ini, misalnya dengan menurunkan suku bunga acuan sehingga bunga KPR menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa hal ini dapat mengurangi independensi BI.

"Jadi BI agak susah memang kalau kondisinya seperti hari ini dengan karakter pemerintah yang ambisinya untuk mengintervensi itu sangat besar. Pada ujungnya akan memaksa BI untuk ikut terlibat," terang Ronny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×