Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rangkaian kunjungan kenegaraan sejumlah kepala negara ke Indonesia menghasilkan sejumlah komitmen investasi dan kerja sama strategis baru.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, banjirnya komitmen investasi menunjukkan masih besarnya kepercayaan asing untuk menanamkan modal di dalam negeri. Namun, keberhasilnya tidak boleh lagi sekadar diukur dari besarnya nilai komitmen di atas kertas.
"Itu penting sebagai sinyal kepercayaan, tetapi belum otomatis menjadi investasi yang benar-benar masuk. Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak yang benar-benar masuk ke tahap konstruksi, produksi, lalu beroperasi," ujar Yusuf saat dihubungi Kontan, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Menkeu Kaji Usulan Buruh agar Pajak JHT Diturunkan, Lihat Dampaknya ke Penerimaan
Yusuf menyoroti sejumlah kesepakatan strategis yang dibawa para pemimpin negara tersebut.
Dalam pertemuan Presiden Prabowo dan PM Singapura Lawrence Wong misalnya, disepakati 26 kerja sama yang terdiri dari kesepakatan antarpemerintah (G to G) dan bisnis (B to B). Singapura menegaskan rencana ekspansi Kawasan Industri Kendal (KIK) serta mendorong pengembangan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) sebagai pusat ekonomi digital.
Sementara itu, kunjungan PM India Narendra Modi juga menelurkan sejumlah kesepakatan baru di bidang pendidikan, kesehatan, dan teknologi.
"Semua ini menunjukkan minat investor terhadap Indonesia masih kuat. Namun, dari pihak India sendiri sudah diakui bahwa sebagian kesepakatan masih dalam proses dan membutuhkan waktu sebelum bisa dieksekusi," kata Yusuf.
Di sisi lain, Yusuf melihat derasnya realisasi investasi di dalam negeri terbukti menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja baru.
Mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi sepanjang 2025 tumbuh 12,7% YoY dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 1.714,2 triliun. Capaian tersebut ditopang oleh realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 1.030,3 triliun dan penanaman modal asing (PMA) senilai Rp 900,9 triliun.
Realisasi investasi ini turut menyumbang penyerapan tenaga kerja mencapai 2,71 juta orang. Penyerapan tenaga kerja ini turut tumbuh 10,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Meski mengalami peningkatan, Yusuf memberikan catatan kritis terkait karakter investasi masa depan, khususnya di sektor ekonomi digital seperti pusat data (data center) di kawasan Batam-Bintan-Karimun. Sektor ini dinilai bersifat padat modal (capital intensive) ketimbang padat karya.
"Kebutuhan tenaga kerja terbesar pada data center terjadi saat masa pembangunan (konstruksi). Setelah beroperasi, jumlah pekerjanya relatif lebih sedikit dan membutuhkan keterampilan digital tingkat tinggi. Jika kualitas SDM lokal tidak dipersiapkan, posisi dengan nilai tambah tinggi ini berpotensi justru diisi oleh tenaga kerja asing (TFA)," urainya.
Baca Juga: Realisasi PNBP Semester I Naik 21,6% Jadi Rp 271 Triliun, Didorong Harga Komoditas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














