Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan tekanan biaya hidup yang masih tinggi mulai mendorong rumah tangga mengandalkan utang untuk mempertahankan konsumsi.
Kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai karena dapat mempersempit ruang keuangan masyarakat dan meningkatkan risiko terhadap konsumsi ke depan.
Yusuf mengacu pada data Mandiri Spending Index yang menunjukkan indeks belanja naik ke level 123,0 atau tumbuh 5,9% secara tahunan (yoy).
Baca Juga: OCE BankMandiri: Belanja Masih Tumbuh per Juni,Konsumsi Rumah Tangga Bergantung Utang
Namun, di sisi lain, indeks tabungan turun ke level 84,8, sementara indeks pinjaman meningkat hingga 157,7.
Menurutnya, kombinasi ketiga indikator tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat memang masih bertahan, tetapi mulai ditopang oleh pembiayaan, bukan sepenuhnya oleh peningkatan pendapatan riil.
"Tekanan biaya hidup yang masih tinggi dan pertumbuhan upah yang belum sepenuhnya mengejar inflasi membuat sebagian rumah tangga menggunakan fasilitas kredit, seperti pinjaman digital, kartu kredit, dan paylater, untuk menjaga pola konsumsi," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, pemanfaatan kredit membantu menopang konsumsi dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut juga menandakan ruang finansial rumah tangga semakin menyempit karena tabungan terus menurun, sementara kewajiban utang meningkat.
Baca Juga: CORE: Kenaikan Tiket Pesawat Tekan Leisure Economy dan Konsumsi Rumah Tangga
Yusuf menilai, ketergantungan konsumsi terhadap utang perlu menjadi perhatian. Pasalnya, apabila suku bunga tetap tinggi atau akses terhadap pembiayaan diperketat, kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan belanja berpotensi melemah.
"Jika suku bunga tetap tinggi atau akses kredit diperketat, kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan belanja dapat melemah dan berisiko menekan pertumbuhan konsumsi," katanya.
Oleh karena itu, Yusuf berpandangan prospek konsumsi rumah tangga akan sangat bergantung pada pemulihan pendapatan riil masyarakat.
Baca Juga: BPS: Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Sumbang 82,65% ke PDB Kuartal I 2026
Di saat yang sama, ekspansi kredit juga perlu dijaga tetap sehat agar tidak memicu peningkatan risiko kredit bermasalah di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













