kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 16.997   -11,00   -0,06%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Komitmen Investasi Rp 574 Triliun dari Jepang-Korsel Jangan Hanya Sebatas MoU


Jumat, 03 April 2026 / 04:45 WIB
Komitmen Investasi Rp 574 Triliun dari Jepang-Korsel Jangan Hanya Sebatas MoU
ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan 13 pimpinan perusahaan super besar Jepang di To (Seskab RI/dok)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Indonesia mengantongi komitmen investasi jumbo dari Jepang dan Korea Selatan dengan total nilai mencapai sekitar Rp 574 triliun.

Meski dinilai mempertegas daya tarik Indonesia di tengah ketidakpastian global, para ekonom mengingatkan tantangan terbesar justru berada pada tahap realisasi.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, komitmen investasi tersebut masih menghadapi tantangan besar dalam implementasi.

Menurutnya, investasi dari Jepang dan Korea Selatan umumnya masuk ke sektor manufaktur berkualitas tinggi yang penting bagi transformasi ekonomi Indonesia. Meski demikian, ia menekankan bahwa MoU hanyalah langkah awal.

“Yang lebih penting dan menantang adalah merealisasikan MoU tersebut, mengingat ketidakpastian ekonomi global, iklim investasi yang masih kurang kondusif, serta kekecewaan investor Korea Selatan belakangan ini, termasuk Hyundai akibat inkonsistensi kebijakan pemerintah,” ujar Wijayanto kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: Berikut Sederet Komitmen Investasi RI-Jepang Senilai Rp 401,7 Triliun

Senada, Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai kesepakatan tersebut lebih bernuansa politis dibandingkan ekonomi dalam kondisi global saat ini.

“Dalam situasi dunia sekarang, MoU ini akan lebih banyak menjadi political act dibanding economic act. Realisasi investasi sangat bergantung pada kondisi riil yang penuh ketidakpastian, sehingga bisa saja berhenti pada tahap komitmen saja,” katanya.

Meski begitu, para ekonom sepakat, komitmen investasi ini tetap menjadi sinyal positif bagi Indonesia. Pemerintah pun diharapkan mampu mengawal implementasi proyek agar tidak berhenti pada kesepakatan di atas kertas.

Perlu diketahui, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, komitmen investasi Indonesia dengan Korea Selatan dan Jepanga merupakan hasil dari rangkaian pertemuan bilateral dan forum kerja sama antara pemerintah dan pelaku usaha kedua negara.

Dalam forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth, Indonesia menandatangani 10 nota kesepahaman (MoU) dengan Korea Selatan senilai US$ 10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun. Kerja sama tersebut mencakup sektor energi dan transisi hijau seperti tenaga surya, carbon capture and storage, hingga energi terbarukan.

Selain itu, kerja sama juga merambah sektor industri dan manufaktur, termasuk baja, baterai, serta transportasi ramah lingkungan. Investasi turut menyasar sektor digital dan kecerdasan buatan (AI), properti, serta infrastruktur seperti pengembangan kawasan Bumi Serpong Damai.

Sejumlah perusahaan besar Korea Selatan juga memperluas komitmennya, termasuk POSCO dalam rantai pasok baterai. Sementara Lotte Group membuka peluang investasi baru dengan menggandeng Danantara sebagai calon mitra investor.

Di sisi lain, kunjungan Presiden ke Jepang menghasilkan 9 MoU dengan nilai investasi mencapai US$23,6 miliar atau sekitar Rp401 triliun. Kerja sama ini mencakup sektor energi, termasuk proyek gas Masela, hilirisasi industri, hingga sektor keuangan.

Baca Juga: Pemerintah RI Kantongi Komitmen Investasi Rp 574 Triliun dari Jepang & Korea Selatan

Kolaborasi juga melibatkan Sumitomo Mitsui Banking Corporation dengan Pegadaian, serta penguatan investasi melalui Japan External Trade Organization. Selain itu, kerja sama turut mencakup sektor industri kreatif dan manufaktur.

“Artinya, kunjungan Bapak Presiden ke kedua negara ini menghasilkan komitmen investasi sebesar Rp574 triliun. Ini angka yang sangat signifikan karena Indonesia dalam situasi geopolitik yang tidak menentu masih menjadi daya tarik bagi investor Jepang maupun Korea,” ujar Airlangga.

Ia menambahkan, Jepang saat ini merupakan mitra investasi dan perdagangan terbesar ketiga Indonesia, sementara Korea Selatan berada di peringkat ketujuh.

Ke depan, pemerintah juga mendorong peran sovereign wealth fund Indonesia yakni Danantara, sebagai co-investor untuk memperkuat realisasi proyek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×