kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pemerintah sudah tidak mau perjanjian perdagangan lewat jalur G2G


Rabu, 21 Agustus 2019 / 14:22 WIB
Pemerintah sudah tidak mau perjanjian perdagangan lewat jalur G2G
ILUSTRASI. Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan

Reporter: Markus Sumartomdjon | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - NUSA DUA. Ajang Indonesia Africa Infrastructure Dialogue (IAID) 2019 diharapkan bisa menjadi pembuka jalan bagi Indonesia dalam mencari pasar baru dan memaksimalkan potensi ekonomi Indonesia. Ini disampaikan oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan berharap, pertemuan tersebut bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk bisa mengoptimalkan pasar di luar negeri. Ini sekaligus membuka cakrawala baru dalam menggapai pasar global. Periode lalu, saat Indonesia menjadi tujuan pasar bagi negara lain yang ingin mengambil sumber daya alam dan lainnya harus segera diakhiri. “Kami ingin ada hal yang baru, kalau ingin menjual, harus ada nilai tambahnya,” kata Luhut saat jumpa pers bersama dengan Menlu Retno Marsudi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Rabu (21/8).

Baca Juga: Luhut: Forum infrastruktur Indonesia-Afrika bukan cuma urusan dana

Nah Luhut ingin, dalam mengundang investasi ke Indonesia, begitu pula saat perusahaan Indonesia ekspansi ke luar negeri, ada hal-hal yang harus menjadi perhatian. Yakni, pemerintah sudah tidak mau perjanjian perdagangan lewat jalur government to government (G2G) melainkan menjadi business to business (B2B). Setiap ada investasi sebisa mungkin ada transfer teknologi, dan berikutnya secara bertahap bisa mengurangi tenaga kerja asing dan diganti dengan tenaga lokal.

Begitu pula soal pendanaan, diupayakan bisa memakai ragam cara. Seperti lewat kontraktor yang mendapat proyek dari investor, atau dari pembicaraan ragam forum. Yang terpenting, investasi yang dihasilkan adalah yang bisa memberi banyak manfaat tak cuma bagi investor tapi juga masyarakat dan negara.

Baca Juga: Wow, Indonesia teken kerjasama bisnis dengan Afrika senilai Rp 11,7 triliun

Luhut pun berharap, ada perusahaan Indonesia yang mulai ekspansi lebih intensif di benua Afrika. Ia mengambil contoh sudah ada perusahaan lokal yang berinvestasi di benua hitam, seperti Grup Medco atau Grup Bakrie lewat Energi Mega Persada. Dan dalam paparan di acara tersebut, ada potensi yang bisa dimanfaatkan para pebisnis lokal. Seperti di Madagaskar yang terdapat cadangan energi yang cukup besar. “Ini bisa dimanfaatkan perusahaan lokal dan bisa mengurangi impor energi,” tuturnya.

Dia ingin, perusahaan Indonesia tidak cuma menyasar ke beberapa negara saja di Afrika, tapi juga ke negara di Afrika lainnya. “Ada empat sampai lima negara yang akan kami sasar,” tuturnya.

Baca Juga: LPEI sepakati kerja sama pembiayaan proyek di Afrika senilai US$ 356 juta

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga mengakui potensi pasar yang besar dari Afrika. Indonesia ia harap bisa bergerak cepat karena negara kuat seperti China sudah menyasar pasar di benua tersebut. “Memang ini tidak berlangsung untuk satu atau dua tahun ke depan, tapi jangka panjang, minimal lima tahun,” kata dia kepada Kontan.co.id.




TERBARU

Close [X]
×