Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali mengandalkan strategi frontloading dalam pembiayaan utang, terutama melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), pada kuartal pertama 2026.
Strategi ini bertujuan memastikan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) efisien sekaligus risiko tetap terkelola.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu), pemerintah menargetkan lelang SBN sebesar Rp 220 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.
Namun, target pembiayaan utang keseluruhan 2026 belum diumumkan, karena Undang-Undang APBN 2026 yang disepakati pemerintah belum dipublikasikan.
Baca Juga: Suku Bunga Global Tinggi, Waspada Risiko Biaya Utang Membengkak di 2026-2027
Rencananya, lelang SBN kuartal I-2026 akan digelar 11 kali, dengan rincian empat kali pada Januari, empat kali pada Februari, dan tiga kali pada Maret. Lelang ini mencakup SBN berbasis konvensional maupun syariah, serta Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu, Suminto, menyatakan fokus penerbitan utang tahun ini adalah pada efisiensi biaya pembiayaan APBN dan pengelolaan risiko yang terukur.
Efisiensi berarti menekan biaya penerbitan serendah mungkin, sementara risiko tetap dipantau agar terkendali.
Selain itu, pemerintah menargetkan portofolio utang yang optimal. Pengelolaan risiko dilakukan secara menyeluruh, meliputi risiko pasar seperti pergerakan suku bunga dan nilai tukar, serta risiko pembiayaan kembali (refinancing risk).
Suminto juga menambahkan, penerbitan SPN dengan tenor kurang dari satu tahun akan ditingkatkan untuk memperdalam pasar uang sekaligus memperbaiki manajemen kas pemerintah.
Baca Juga: Ini Strategi Islami Kelola Utang dengan Bijak agar Finansial Stabil dan Berkah
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pemerintah masih memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan jadwal, frekuensi lelang, jenis seri yang ditawarkan, hingga target penerbitan kuartalan, menyesuaikan kondisi pasar dan kebutuhan kas.
“Pola frontload yang adaptif lebih realistis dibanding mengejar angka secara kaku,” kata Josua, Selasa (6/1/2026).
Ia juga menilai ruang penerbitan SBN valas di awal tahun cukup terbuka karena pada periode ini, likuiditas pasar global biasanya lebih tinggi, sehingga menarik minat investor.
Selanjutnya: Goldman Sachs hingga Invesco Pasang Posisi di ANTM, Sinyal Harga Bisa Tembus 4.000?
Menarik Dibaca: Oppo A5 Pro Smartphone RAM Besar 8 GB yang Usung Fast Charging SuperVOOC 45W
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













