Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, lembaga pemeringkat global belum sepenuhnya memahami konsep lembaga investasi Danantara serta arah kebijakan program pemerintah yang tercermin dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor di balik outlook negatif yang diberikan Moody’s terhadap peringkat utang Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Moody’s masih mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade Baa2, namun mengubah prospeknya menjadi negatif. Menurut Airlangga, kondisi tersebut membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pemerintah maupun Danantara kepada pelaku pasar global.
“Moody’s investment grade Baa2 cuma dia kasih outlook negatif, itu membutuhkan penjelasan dari tentunya pemerintah dan juga lembaga baru Danantara,” ujar Airlangga di agenda Pertemuan Tahunam Jasa Keuangan (PTIJK) pada Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia
Ia menilai banyak lembaga pemeringkat dan pelaku pasar keuangan global yang belum sepenuhnya memahami mekanisme Danantara, sehingga diperlukan komunikasi yang lebih intensif agar konsep tersebut dapat dipahami secara utuh.
“Banyak rating agency di pasar keuangan global belum paham ini, jadi harus kita beri penjelasan. Dengan Danantara kita sebelumnya unlock dan reform supaya bisa dipisahkan dan bergerak seperti private sector untuk investasi,” ungkapnya.
Pemerintah berharap, melalui pendekatan tersebut, Danantara dapat bergerak lebih fleksibel layaknya sektor swasta sehingga mampu menarik investasi lebih besar dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga menjelaskan, struktur APBN tahun ini memang memiliki perbedaan dibandingkan sebelumnya karena pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk berbagai program prioritas Presiden, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa merah putih, serta peningkatan pelayanan masyarakat.
Di sisi lain, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi, pemerintah menghadirkan Danantara sebagai kendaraan investasi baru. Menurut Airlangga, pendekatan ini menjadi pembeda karena sebelumnya investasi banyak dilakukan melalui belanja langsung APBN.
Baca Juga: Pendapatan Rendah, Belanja Program Sosial Tinggi Jadi Alasan Moody's Pangkas Outlook
“Untuk menggerakkan pertumbuhan dari investasi kita punya Danantara, itu yang membedakan. Sebelumnya investasi melalui anggaran, sekarang melalui Danantara,” jelasnya.
Selanjutnya: KPK Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Restitusi Pajak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













