kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.845   66,00   0,39%
  • IDX 8.104   -42,84   -0,53%
  • KOMPAS100 1.140   -5,81   -0,51%
  • LQ45 829   -3,44   -0,41%
  • ISSI 285   -2,28   -0,79%
  • IDX30 433   -0,67   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   1,04   0,20%
  • IDX80 127   -0,56   -0,44%
  • IDXV30 142   0,14   0,10%
  • IDXQ30 140   0,20   0,14%

Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia


Kamis, 05 Februari 2026 / 22:36 WIB
Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia
ILUSTRASI. Ekonom Senior Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan (KONTAN/Leni Wandira)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketidakpastian kebijakan dan inkonsistensi regulasi dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju investasi di Indonesia.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya ekonomi sekaligus menurunkan daya saing nasional di tengah ketatnya persaingan perebutan modal asing di kawasan ASEAN.

Ekonom Senior Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai, iklim usaha membutuhkan stabilitas aturan agar pelaku usaha dapat menyusun proyeksi bisnis jangka panjang secara lebih terukur.

Baca Juga: Menko Airlangga Buka Suara soal Outlook Negatif Moody’s, Apa Katanya?

“Dalam dunia investasi, kepastian regulasi sama pentingnya dengan insentif fiskal. Tanpa kepastian, investor cenderung menahan ekspansi,” ujar Anthony dalam seminar nasional bertajuk Profesionalisme Penegakan Hukum dan Pengaruhnya terhadap Iklim Usaha di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, perubahan kebijakan yang kerap terjadi menciptakan risiko tambahan bagi dunia usaha.

Hal tersebut membuat Indonesia kurang kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga yang menawarkan kepastian aturan dan stabilitas kebijakan.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.

Ia menilai banyak investor asing sejatinya tertarik berinvestasi di Indonesia, namun akhirnya memilih mengalihkan modal ke negara lain seperti Thailand dan Vietnam.

Baca Juga: Restitusi Pajak Rp 48,3 Miliar di KPP Banjarmasin Berujung OTT KPK

“Produk yang dibuat di negara-negara tersebut tetap bisa masuk ke Indonesia melalui skema perdagangan ASEAN dengan tarif rendah. Akibatnya, Indonesia tetap menjadi pasar, tetapi nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja justru dinikmati negara lain,” ujarnya.

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menambahkan, tekanan akibat ketidakpastian regulasi dirasakan baik oleh perusahaan besar maupun menengah.

Perusahaan besar menghadapi risiko perubahan kebijakan yang tidak konsisten, sementara perusahaan menengah sangat bergantung pada kepercayaan investor.

“Ketika regulasi sering berubah, investor terutama investor asing akan menahan diri. Ini berdampak langsung pada arus modal dan ekspansi usaha,” katanya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri Amsari menilai, selama hampir tiga dekade Indonesia belum memiliki peta jalan yang konsisten dalam pemberantasan korupsi.

Baca Juga: Pendapatan Rendah, Belanja Program Sosial Tinggi Jadi Alasan Moody's Pangkas Outlook

Kondisi tersebut membuat penegakan aturan kerap dipersepsikan tidak profesional dan menambah ketidakpastian bagi dunia usaha.

Forum diskusi tersebut menyoroti bahwa persoalan institusi dan kebijakan kini telah menjadi variabel ekonomi penting yang memengaruhi kepercayaan pasar.

Ketidakpastian regulasi, inkonsistensi kebijakan, hingga persepsi risiko dinilai berpotensi menggerus daya saing nasional.

Data World Justice Project yang menempatkan indeks penegakan hukum Indonesia pada posisi relatif rendah juga dipandang sebagai sinyal perlunya pembenahan tata kelola.

Perbaikan tersebut dinilai krusial agar target pertumbuhan ekonomi 2026 dapat tercapai.

Baca Juga: Danantara Umumkan Pemenang Proyek WtE Akhir Februari, Groundbreaking Kuartal II-2026

Diskusi yang menghadirkan Eros Djarot, Hikmahanto Juwana, Anthony Budiawan, dan DJ Donny ini menegaskan bahwa reformasi kebijakan perlu ditempatkan sebagai agenda ekonomi strategis.

Tanpa kepastian dan konsistensi regulasi, upaya menarik investasi serta menciptakan lapangan kerja dinilai akan menghadapi hambatan struktural.

Selanjutnya: BEI Pertahankan Target IPO 2026, Kenaikan Free Float Dinilai Perkuat Daya Tarik Pasar

Menarik Dibaca: Net Worth vs Gaji: Kenapa Orang Kaya Fokus Kekayaan Bersih, Bukan Penghasilan?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×