Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia diperkirakan tetap bertahan pada 2026. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya tekanan imported inflation berpotensi membuat surplus perdagangan tetap kecil dalam beberapa bulan ke depan.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai lonjakan impor yang terjadi belakangan ini tidak hanya dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, tetapi juga akibat kenaikan harga barang impor di pasar global yang diperparah oleh pelemahan rupiah.
"Perkembangan impor yang melonjak saat ini dipengaruhi dua faktor. Pertama karena ada faktor dolar yang lebih mahal sehingga membuat nilai impor naik. Kedua yang krusial adalah demand impor kita masih kuat," ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Wacana MBG untuk Siswa Indonesia di Arab Saudi, Begini Kata Ekonom
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya sebesar US$ 89,1 juta, merosot tajam dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar. Capaian tersebut menjadi surplus terkecil sejak Mei 2020, meski Indonesia masih membukukan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Pada April 2026, nilai ekspor tercatat sebesar US$ 25,30 miliar atau tumbuh 21,98% secara tahunan. Namun, impor meningkat lebih tinggi, yakni 22,49% menjadi US$ 25,21 miliar.
Menurut Myrdal, kenaikan impor mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari kembali ekspansifnya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 yang berada di atas level 50.
"Ini refleksi bahwa domestic demand masih terjaga dan solid di tengah kondisi global yang kurang kondusif," katanya.
Selain faktor kurs, lonjakan harga minyak dunia juga ikut memperbesar nilai impor Indonesia, terutama impor migas. Akibatnya, surplus perdagangan nonmigas yang masih mencapai lebih dari US$ 3 miliar tergerus oleh defisit perdagangan migas yang semakin dalam.
"Begitu kita masukkan komponen oil and gas impornya, trade surplus kita menjadi sangat tipis," ujarnya.
Myrdal menjelaskan, kenaikan impor juga terjadi pada sejumlah komoditas penunjang industri domestik seperti mesin, peralatan mekanis, produk elektrik, plastik, bahan kimia, besi dan baja, hingga kendaraan. Kenaikan nilai impor tersebut sebagian dipicu oleh harga global yang lebih mahal.
Baca Juga: Data BPS: Perjalanan Wisata Dalam Negeri Meningkat pada Periode Januari-April 2026
Ia memperkirakan surplus perdagangan masih akan bertahan sepanjang tahun ini, ditopang permintaan ekspor yang relatif kuat dari negara-negara mitra dagang utama serta tingginya harga sejumlah komoditas andalan Indonesia seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).
Namun, selama harga minyak dunia masih tinggi dan rupiah belum menguat signifikan, surplus perdagangan diperkirakan tidak akan kembali ke level yang besar seperti beberapa tahun terakhir.
"Selama rupiah masih melemah dan harga minyak masih tinggi, trade surplus kita akan tipis. Saya melihat kisarannya hanya sekitar US$ 10 juta sampai US$ 100 juta," kata Myrdal.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga impor berpotensi menimbulkan tekanan inflasi ke depan. Menurutnya, mahalnya harga bahan baku impor akan diteruskan ke biaya produksi industri dan pada akhirnya berdampak pada harga barang di tingkat konsumen.
"Kenaikan harga barang impor akan ditransmisikan ke harga konsumen. Itu yang membuat tekanan imported inflation meningkat," ujarnya.
Myrdal mencontohkan kenaikan harga plastik, komponen elektronik, telepon seluler, kendaraan, hingga berbagai bahan baku industri yang masih bergantung pada impor. Selain itu, kenaikan harga gandum, minyak goreng, dan sejumlah komoditas global lainnya juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi domestik.
Ia menilai indikasi tersebut mulai terlihat dari kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan inflasi konsumen. BPS mencatat inflasi IHPB pada Mei 2026 mencapai 5,76% secara tahunan, sementara inflasi konsumen berada di level 3,08%.
Karena itu, Myrdal mengingatkan pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan impor untuk mendukung aktivitas industri dan upaya mengendalikan tekanan inflasi agar tidak semakin membebani daya beli masyarakat.
"Yang penting surplus perdagangan tetap terjaga dan devisa hasil ekspor bisa segera dikonversi ke rupiah. Itu akan membantu menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung aktivitas ekonomi domestik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













