kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Moody's Pangkas Outlook Peringkat Kredit, Sinyal Risiko Fiskal & Makro Meningkat


Jumat, 06 Februari 2026 / 20:55 WIB
Moody's Pangkas Outlook Peringkat Kredit, Sinyal Risiko Fiskal & Makro Meningkat
ILUSTRASI. Moody’s Revisi Outlook BUMA Menjadi Stabil, Tegaskan Peringkat Ba3 (Dok/PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA))


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dari stabil menjadi negatif sebagai sinyal bahwa risiko fiskal dan persepsi makro meningkat.

“Perubahan outlook Moody’s Ratings dari stabil menjadi negatif belum langsung menaikkan biaya utang pemerintah, karena peringkat Indonesia masih berada di level investment grade (Baa2). Namun, outlook negatif memberi sinyal bahwa risiko fiskal dan makro dipersepsikan meningkat,” ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam kondisi seperti ini investor cenderung menjadi lebih berhati-hati dan mulai meminta imbal hasil yang sedikit lebih tinggi, terutama untuk Surat Berharga Negara (SBN) berjangka menengah dan panjang.

Baca Juga: Moody's Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif, Begini Respons Kemenkeu

Menurutnya, dari sisi pasar, dampak awal biasanya terlihat pada pelebaran premi risiko credit default swap (CDS) yang mencerminkan perubahan persepsi risiko investor. 

Sementara itu, yield SBN cenderung menyesuaikan secara bertahap dan selektif, dengan tekanan terbesar pada tenor panjang yang lebih sensitif terhadap isu keberlanjutan fiskal.

“Artinya, risiko kenaikan yield ada, tetapi tidak bersifat tiba-tiba atau ekstrem selama kepercayaan pasar masih terjaga,” jelasnya.

Ke depan, Rizal menilai biaya berutang pemerintah sangat bergantung pada arah kebijakan fiskal yang ditempuh. Jika disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan tetap dijaga, dampak outlook negatif dapat dibatasi.

Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Sulit Ditebak, Moody’s Pangkas Outlook Indonesia

Namun, ia mengingatkan bahwa jika tekanan fiskal berlanjut tanpa kejelasan strategi, biaya utang berisiko meningkat secara lebih permanen. 

"Dalam situasi global yang ketat, pengelolaan utang perlu lebih hati-hati agar beban bunga APBN tidak terus membesar," ungkap Rizal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×