kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Momen Ramadan dan Idul Fitri Berpotensi Kerek Jumlah Uang Beredar


Jumat, 24 Maret 2023 / 18:11 WIB
Momen Ramadan dan Idul Fitri Berpotensi Kerek Jumlah Uang Beredar
ILUSTRASI. Petugas memberikan uang baru hasil penukaran kepada warga di mobil kas keliling Bank Indonesia di Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (21/3/2023).Ramadhan dan Idul Fitri Beportensi Kerek Jumlah Uang Beredar.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Periode Ramadan dan Idul Fitri berpotensi meningkatkan likuiditas perekonomian atau peredaran uang dalam arti luas (M2). 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mengungkapkan, M2 pada periode tersebut berpotensi tumbuh dua digit. 

"Menjelang atau pada saat Idul Fitri, M2 diperkirakan tumbuh dabel digit, atau bisa lebih dari 10% year on year (yoy)," tutur David kepada Kontan.co.id, Jumat (24/3). 

Ini tentu meningkat dari pertumbuhan pada bulan Januari 2023 maupun Februari 2023, yang masing-masing sebesar 8,2% yoy dan 7,9% yoy. 

Baca Juga: BI: Peredaran Uang Palsu Masih Relatif Kecil dan Terus Menyusut Setiap Tahun

Menurut David, peningkatan ini menunjukkan aktivitas konsumsi maupun transaksi dari masyarakat yang meningkat. 

Nah, tren peningkatan pertumbuhan M2 tak hanya berhenti pada periode Ramadan dan Idul Fitri. David melihat potensi M2 makin naik pada semester II-2023. 

Ini sehubungan dengan pola musiman yaitu belanja pemerintah yang berpotensi lebih kuat dari semester I. Aktivitas investasi pun digadang meningkat pada paruh kedua 2023. 

Tak hanya itu, adanya periode pemilihan umum (pemilu) yang dimulai pada Februari 2024 akan mendongkrak peningkatan uang beredar. 

Baca Juga: Uang Beredar Melandai, Sinyal Konsumsi Lunglai

Menurut perhitungan David, menjelang pemilu dan pada saat tahun pemilu akan mendorong peningkatan uang beredar sebesar 15%, bila dibandingkan dengan periode pemilu sebelumnya. 

Selain karena pemilu pada tahun 2024 dilakukan serentak sehingga belanja kampanye membengkak, ini juga sehubungan dengan inflasi yang naik. 

"Memperhitungkan faktor inflasi. Dengan inflasi, maka kebutuhan meningkat sehingga uang yang dibelanjakan pun makin meningkat," tandas David. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×