kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.762   1,00   0,01%
  • IDX 6.435   -27,35   -0,42%
  • KOMPAS100 841   -11,30   -1,33%
  • LQ45 639   -9,17   -1,41%
  • ISSI 226   1,34   0,60%
  • IDX30 355   -4,83   -1,34%
  • IDXHIDIV20 444   -5,88   -1,31%
  • IDX80 96   -1,35   -1,39%
  • IDXV30 122   -1,68   -1,36%
  • IDXQ30 115   -1,57   -1,35%

Meski Risiko Eksternal Meningkat, Outlook Defisit APBN 2026 Tetap 2,85%


Jumat, 18 September 2026 / 13:53 WIB
Meski Risiko Eksternal Meningkat, Outlook Defisit APBN 2026 Tetap 2,85%
ILUSTRASI. SCBD - Danayasa Arthatama (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah memastikan masih  mempertahankan outlook defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), meski menghadapi peningkatan risiko eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia dan tingginya imbal hasil (yield) US Treasury.

Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Ferry Ardiyanto mengatakan, pemerintah telah memperhitungkan berbagai dinamika ekonomi global dalam pengelolaan APBN.

“Memang ada peningkatan risiko dari sisi eksternal, baik dari komoditas, energi, maupun yield global, namun paling penting kita memiliki buffer,” ujar Ferry dalam konferensi pers, Jumat (18/9/2026).

Baca Juga: Resmi! Ini Tanggal Merah & Cuti Bersama 2027, Warga Bisa Libur Panjang 6x

Menurutnya, APBN dirancang dengan buffer yang cukup untuk menghadapi berbagai dinamika ekonomi dan geopolitik. Dengan demikian, outlook defisit sebesar 2,85% dari PDB masih menjadi baseline pemerintah.

Meski demikian, pemerintah tetap melakukan stress testing terhadap sejumlah skenario yang berpotensi memberikan tekanan terhadap APBN. Skenario tersebut antara lain kenaikan harga minyak, perubahan nilai tukar, hingga perubahan yield Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Ferry menambahkan, pemerintah juga akan mengandalkan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan APBN. Strategi tersebut mencakup pengelolaan belanja, optimalisasi pendapatan negara, strategi pembiayaan, serta penggunaan instrumen fiskal secara prudent.

“Yang paling penting adalah kita memiliki buffer yang sampai saat ini masih kuat. Termasuk pengelolaan belanja, kemudian optimalisasi pendapatan negara, strategi pembiayaan, dan penggunaan instrumen fiskal yang prudent,” ujarnya.

Untuk diketahui, hingga akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit yang terjaga ini ditopang oleh dari pendapatan negara yang mencapai Rp 2.055,6 triliun, tumbuh 25,4% secara tahunan (year on year/yoy). Realisasi pendapatan tersebut telah mencapai 65,2% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026. 

Sementara itu, belanja negara hingga Agustus 2026 telah mencapai Rp 2.295,7 triliun. Realisasi belanja tersebut tumbuh 17,1% yoy dan telah mencapai 59,7% dari pagu belanja negara dalam APBN 2026.

Adapun  Treasury tenor 10 tahun yang sempat naik melampaui 5,00%, terakhir tercatat turun 6,1 basis poin ke level 4,943%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 5,6 basis poin menjadi 5,292% dan juga berada di jalur penurunan terbesar sejak 25 Agustus.

Sementara itu, harga minyak melanjutkan koreksi pada perdagangan Jumat (18/9/2026) pagi. Pukul 07.28 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 100,96 per barel, turun 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 101,91 per barel.

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Ekonomi Kuartal III 2026 Berdampak ke Daya Beli dan Lapangan Kerja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×