kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Suku Bunga The Fed Naik, Pemerintah Perlu Cermat Pilih Denominasi Global Bond


Jumat, 18 September 2026 / 05:05 WIB
Suku Bunga The Fed Naik, Pemerintah Perlu Cermat Pilih Denominasi Global Bond
ILUSTRASI. Mata Uang Global - Yuan, Yen, Dolar AS, Euro, Lira, Pound (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah perlu mencermati pilihan mata uang dalam penerbitan global bond senilai sekitar US$ 2 miliar yang masih akan direalisasikan hingga akhir tahun. 

Di tengah suku bunga global yang masih tinggi, pemilihan denominasi dapat menentukan biaya pembiayaan sekaligus risiko nilai tukar yang ditanggung pemerintah.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan pemerintah memiliki sejumlah pilihan untuk mendiversifikasi penerbitan surat berharga negara (SBN) valas, tidak hanya dalam dolar AS.

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Naik, Masih Bisa Naik Lagi Sebelum Tutup Tahun

Strategi tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika biaya pembiayaan dalam dolar berpotensi tetap tinggi.

"Yang penting adalah mendapatkan yield yang lebih murah sekaligus melakukan diversifikasi denominasi," ujar David kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, penerbitan SBN dalam denominasi selain dolar AS masih terbuka, terutama dengan melihat perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah di negara lain.

Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah denominasi yuan melalui Panda Bond.

David menilai pilihan tersebut masih relevan karena yield obligasi pemerintah China tenor 10 tahun menunjukkan tren penurunan. Kondisi itu berbeda dengan yield obligasi sejumlah negara lain yang cenderung meningkat.

Dengan demikian, pemerintah berpeluang kembali menggunakan strategi diversifikasi mata uang untuk memperoleh biaya pembiayaan yang lebih kompetitif sekaligus mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Fokus Tertuju pada Keputusan Suku Bunga The Fed

Namun, pilihan denominasi juga perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar. Utang dalam mata uang asing akan meningkatkan kebutuhan pemerintah terhadap devisa ketika pembayaran pokok dan bunga jatuh tempo.

Karena itu, menurut David, penguatan neraca transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor menjadi salah satu cara untuk memperkuat ketersediaan devisa domestik.

Dengan pasokan devisa yang lebih kuat, kebutuhan pemerintah terhadap penerbitan utang valas dapat ditekan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara penerbitan SBN valas dan SBN rupiah.

Penerbitan SBN rupiah yang terlalu besar berpotensi menyerap likuiditas domestik dan meningkatkan risiko crowding out, yakni ketika pembiayaan pemerintah mengurangi ruang pendanaan bagi sektor swasta.

Baca Juga: Bukan Cuma Kenaikan Suku Bunga The Fed, Pasar Cermati Pernyataan Kevin Warsh

Kondisi pasar global juga menjadi pertimbangan. The Fed pada September 2026 menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Suku bunga global yang masih tinggi berpotensi membuat biaya penerbitan surat utang tetap mahal.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah tidak hanya menghadapi pertanyaan mengenai kapan global bond diterbitkan, tetapi juga bagaimana memilih sumber dan denominasi pembiayaan yang paling sesuai dengan kebutuhan APBN serta risiko nilai tukar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×