kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Menko Airlangga: Sulit Pertahankan Defisit di 3% Bila Tak Efisiensi Belanja


Jumat, 13 Maret 2026 / 17:26 WIB
Menko Airlangga: Sulit Pertahankan Defisit di 3% Bila Tak Efisiensi Belanja
ILUSTRASI. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (KONTAN/Lailatul Anisah)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan, akan sulit mempertahankan defisit APBN di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) apabila pemerintah tidak melakukan apabila tidak melakukan efisiensi di tengah gejolak perekonomian global, utamanya di Timur Tengah.

Adapun Airlangga membeberkan beberapa skenario dampak dari adanya perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Misalnya  berlangsung selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan, yang masing-masing berdampak pada kenaikan harga minyak.

Pada skenario perang terjadi selama enam bulan harga minyak dapat naik hingga sekitar US$ 107 per barel, sebelum kemudian kembali menurun. Sementara pada skenario perang berlangsung hingga sepuluh bulan harga bahkan dapat meningkat hingga US$ 130 per barel dan berada di sekitar US$ 125 per barel pada akhir Desember 2025.

Baca Juga: Hadapi Tantangan Era Digital, LAN dan GNIK Beri Pembekalan Kepemimpinan Bagi ASN

“Nah pembelian kami di bulan Januari-Februari itu angkanya US$ 64,41 per barel dan US$ 68,79 per barel. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang US$ 70 per barel,” kata Airlangga di Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026).

Berdasarkan simulasi yang dibuat, rata-rata harga minyak dalam skenario lima bulan diperkirakan mencapai sekitar US$ 90 per barel, enam bulan mencapai US$ 97 per barel, dan skenario sepuluh bulan dapat mencapai US$ 115 per barel.

Airlangga menjelaskan bahwa jika skenario pertama digunakan dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sekitar US$ 86 per barel dan nilai tukar Rp 17.000 per dolar AS, lebih lemah dibanding asumsi APBN Rp16.500 dengan pertumbuhan ekonomi dipertahankan di 5,3% dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8%, maka defisit anggaran diperkirakan mencapai 3,18% dari PDB

Pada skenario moderat kedua dengan harga minyak sekitar US$ 97 per barel, nilai tukar Rp 17.300 per dollar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2%, dan imbal hasil SBN sekitar 7,2%, defisit anggaran diperkirakan mencapai 3,53% dari PDB.

Sementara pada skenario terburuk dengan harga minyak sekitar US$ 115 per barel, nilai tukar Rp 17.500 per dollar AS, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2%, dan imbal hasil SBN 7,2%, defisit dapat meningkat hingga sekitar 4,06% dari PDB.

“Jadi artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3% itu sulit kami pertahankan. Kecuali kami mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden. Nah ini beberapa skenario yang mungkin perlu kami rapatkan secara terbatas,” tutur Airlangga melaporkan kepada Presiden.

Baca Juga: Begini Respons Menkeu Purbaya Terhadap Investigasi Dagang USTR AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×