Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – MADINAH. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochammad Irfan Yusuf meninjau layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia di Saudi German Hospital, Madinah, Arab Saudi. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja sama layanan kesehatan yang baru pertama kali dijalankan pada musim haji tahun ini.
Dalam kunjungan itu, Irfan berdialog dengan pihak rumah sakit sekaligus membahas evaluasi penanganan jemaah haji Indonesia. Ia mengatakan, evaluasi diperlukan untuk memastikan seluruh jemaah memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal selama berada di Tanah Suci.
Menurutnya, kerja sama dengan rumah sakit di Arab Saudi menjadi bagian penting dalam memperkuat layanan kesehatan bagi jemaah, khususnya mereka yang membutuhkan penanganan medis lanjutan di luar fasilitas kesehatan haji Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.044 per Dolar, BI Tingkatkan Intervensi Pasar
Irfan mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu disempurnakan dalam mekanisme koordinasi antara penyelenggara haji dan rumah sakit mitra. Salah satunya terkait komunikasi mengenai proses rujukan pasien, perkembangan kondisi kesehatan jemaah, hingga kepastian waktu pemulangan pasien setelah menjalani perawatan.
"Karena ini baru pertama kali dijalankan, ada beberapa komunikasi yang perlu terus diperbaiki, misalnya terkait pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain dan kapan pasien tersebut sudah memungkinkan untuk dipulangkan," ujar Irfan, usai melakukan kunjungan, Rabu (3/6/2026).
Ke depan, Kementerian Haji dan Umrah akan memperkuat kerja sama dengan rumah sakit mitra agar layanan kesehatan bagi jemaah Indonesia dapat semakin optimal.
Menurut Irfan, fokus utama kerja sama tersebut adalah memastikan jemaah mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih luas dan berkualitas selama menjalankan ibadah haji.
"Yang akan terus ditingkatkan adalah kerja sama pelayanan kesehatan agar jemaah haji Indonesia yang membutuhkan perawatan bisa mendapatkan layanan terbaik," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Irfan juga menyinggung penanganan jemaah yang sakit menjelang pergerakan dari Makkah ke Madinah. Menurutnya, keputusan apakah seorang jemaah tetap diberangkatkan ke Madinah atau tetap menjalani perawatan di Makkah akan disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing.
Baca Juga: Kemenhaj Lihat peluang Ekspor Santan Hingga Ikan Patin ke Katering Haji Arab Saudi
Pemerintah, kata dia, tidak ingin memaksakan jemaah yang masih membutuhkan perawatan untuk berpindah lokasi apabila hal tersebut justru berisiko terhadap kesehatannya.
"Kami juga membahas apakah jemaah yang sedang sakit perlu dipindahkan ke Madinah atau tidak. Kalau ke Madinah tetapi tetap harus dirawat di rumah sakit, maka mereka juga tidak bisa beribadah di Masjid Nabawi. Karena itu, keputusan akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing jemaah," jelasnya.
Menurut Irfan, bagi jemaah yang kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan, perawatan akan tetap dilanjutkan di fasilitas kesehatan terdekat hingga kondisi mereka membaik dan siap mengikuti jadwal kepulangan ke Indonesia.
Ia menegaskan bahwa pertimbangan kesehatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan yang menyangkut pergerakan jemaah.
"Yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan jemaah. Semua keputusan akan diambil berdasarkan kondisi medis dan rekomendasi tenaga kesehatan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Ibadah Haji
- Madinah
- Makkah
- Masjid Nabawi
- Arab Saudi
- Jemaah Haji Indonesia
- Kementerian Haji Dan Umrah
- Layanan Kesehatan Haji
- Keselamatan Jemaah
- Saudi German Hospital
- Menteri Haji dan Umrah
- fasilitas kesehatan haji
- Mochammad Irfan Yusuf
- evaluasi kerja sama
- penanganan medis haji
- koordinasi rujukan pasien
- perawatan haji













