kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.063   63,00   0,35%
  • IDX 5.734   -206,81   -3,48%
  • KOMPAS100 757   -28,35   -3,61%
  • LQ45 570   -18,92   -3,21%
  • ISSI 199   -6,89   -3,34%
  • IDX30 323   -10,54   -3,16%
  • IDXHIDIV20 402   -10,51   -2,55%
  • IDX80 86   -3,16   -3,56%
  • IDXV30 110   -3,44   -3,03%
  • IDXQ30 105   -3,15   -2,92%

Kemenhaj Lihat peluang Ekspor Santan Hingga Ikan Patin ke Katering Haji Arab Saudi


Kamis, 04 Juni 2026 / 11:38 WIB
Kemenhaj Lihat peluang Ekspor Santan Hingga Ikan Patin ke Katering Haji Arab Saudi
ILUSTRASI. Layanan Katering Haji (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – MADINAH. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochammad Irfan Yusuf melihat peluang besar bagi produk pangan Indonesia untuk memasuki rantai pasok katering haji di Arab Saudi. Potensi tersebut mencakup berbagai komoditas, mulai dari beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga aneka bumbu masakan yang selama ini menjadi bagian dari menu jemaah haji Indonesia.

Peluang itu mengemuka saat dirinya bersama Tim Amirul Hajj melakukan peninjauan ke dua perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah, yakni Meez Mary Catering dan Uhud Taiba for Catering.

Menurut Irfan, selain memastikan kualitas layanan konsumsi bagi jemaah, kunjungan tersebut juga bertujuan melihat sejauh mana bahan pangan asal Indonesia dapat dimanfaatkan oleh perusahaan katering yang melayani jemaah Indonesia.

Baca Juga: Menhaj Perkuat Kerja Sama Kesehatan Haji RI–Saudi German Hospital di Madinah

“Kita melihat juga kemungkinan-kemungkinan bagaimana dapur ini juga bisa memanfaatkan atau memaksimalkan penggunaan bahan-bahan bagu dari Indonesia. Apakah itu beras, krupuk, kemudian ikan patin, ataupun bumbu lainnya," ujar Irfan, usai melakukan kunjungan, Rabu (3/6/2026).

Dari hasil peninjauan, ia menemukan sejumlah bahan pangan yang sebenarnya berasal dari Indonesia atau diproduksi di Indonesia, namun saat ini masih dipasok melalui negara lain.

Ia mencontohkan produk santan yang digunakan oleh katering haji. Menurutnya, bahan baku santan tersebut kemungkinan berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan dengan merek dari negara tetangga. Hal serupa juga ditemukan pada komoditas ikan patin yang saat ini dipasok dari negara lain.

“Saya lihat ada santan, santan itu saya yakin dari Indonesia, tapi capnya itu dari negara tetangga. Kemudian saya lihat juga ada ikan patin itu dari negara tetangga juga yang seharusnya kita juga bisa memproduksinya,” katanya.

Meski peluang pasar terbuka, Irfan mengakui terdapat sejumlah tantangan yang masih menghambat masuknya produk pangan Indonesia ke Arab Saudi, terutama terkait biaya logistik dan kondisi geopolitik kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Indonesia Serahkan Paket Daging Dam Jemaah Haji Indonesia untuk Rakyat Palestina

Ia mengungkapkan pemerintah sebenarnya telah mulai menjajaki pengiriman sejumlah komoditas untuk kebutuhan katering haji, termasuk beras dan bumbu masakan. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena tingginya biaya transportasi.

"Kami sudah mencoba mengirim beras, tetapi pengiriman terkendala situasi konflik sehingga batal. Kami juga mencoba mengirim bumbu-bumbu, tetapi karena kondisi Timur Tengah biaya transportasi menjadi mahal sehingga tidak semuanya bisa terkirim," jelasnya.

Menurut Irfan, apabila situasi di kawasan Timur Tengah membaik dan jalur distribusi kembali normal, produk pangan Indonesia akan memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar Arab Saudi.

Ia menilai kebutuhan bahan pangan untuk konsumsi jutaan jemaah haji dan umrah setiap tahun merupakan pasar yang sangat potensial bagi pelaku usaha Indonesia.

"Peluangnya sangat bagus. Saya tadi mencicipi ada ikan teri, asam, dan ikan patin. Semua itu kita punya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan aturan yang berlaku di sini agar produk Indonesia bisa masuk. Negara lain bisa, kenapa kita tidak?" ujarnya.

Ke depan, pemerintah juga membuka kemungkinan memasukkan persyaratan penggunaan bahan pangan Indonesia dalam kontrak penyediaan katering haji. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan kepastian pasar bagi produk nasional sekaligus memperluas ekspor ke Arab Saudi.

"Dalam kontrak bisa saja ditentukan beras dari Indonesia atau beberapa bahan lauk dari Indonesia. Dengan begitu penggunaan produk kita lebih terjamin. Namun tahun ini memang belum bisa dilakukan sepenuhnya karena situasinya berbeda," kata Irfan.

Ia berharap normalisasi kondisi kawasan dan membaiknya rantai logistik global dapat membuka jalan bagi semakin banyak produk pangan Indonesia untuk masuk ke pasar katering haji dan umrah Arab Saudi pada tahun-tahun mendatang. Selain meningkatkan nilai ekspor, langkah tersebut juga dinilai dapat memperkuat keterlibatan pelaku usaha nasional dalam ekosistem penyelenggaraan haji Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×