kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45883,86   -2,32   -0.26%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menakar Dampak Deflasi China Terhadap Perdagangan dan Investasi RI


Selasa, 13 Februari 2024 / 15:22 WIB
Menakar Dampak Deflasi China Terhadap Perdagangan dan Investasi RI
ILUSTRASI. Dampak pelemahan ekonomi China juga tentunya akan berdampak pada Indonesia.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perekonomian China belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ini dikhawatirkan akan berdampak  pada investasi dan juga perdagangan Indonesia dengan China.

Pemulihan ekonomi China yang tak kunjung membaik ini tercermin dari keyakinan konsumen negara tersebut mengalami tren menurun alias mengalami deflasi. Indeks harga konsumen (IHK) China pada 2023 tercatat menurun 0,3%. Penurunan ini terjadi dalam tiga bulan berturut-turut sepanjang 2023.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet menganalisa, perlambatan ekonomi China yang tercermin dari konsumsinya yang menurun juga turut menurunkan tingkat impor dari negara-negara mitra.

Ia khawatir penurunan konsumsi ini dapat berdampak luas pada pelemahan perekonomian global, mengingat kontribusi impor China terhadap perdagangan global sebelum pandemi mencapai 10,8%. 

Dampak pelemahan ekonomi China juga tentunya akan berdampak pada Indonesia. Sebab, ketika perekonomian dunia melambat maka akan berdampak pada harga komoditas yang turun.

“Kondisi ini bisa mempengaruhi proyeksi ataupun kinerja ekspor Indonesia di sepanjang tahun 2024,” tutur Yusuf kepada Kontan, Selasa (13/2).

Baca Juga: Dua Peristiwa Ini Jadi Tantangan Pertumbuhan Nilai dan Volume Ekspor RI di Awal 2024

Di samping itu, jika harga komoditas turun maka penerimaan negara terutama dari komoditas tertentu yang biasanya menjadi produk unggulan ekspor Indonesia akan menjadi turun.

Secara umum, kata Yusuf, komoditas seperti batu ara, nikel, crude palm oil (CPO), merupakan komoditas yang akan terdampak kondisi ekonomi China yang belum pulih.

Adapun untuk jangka pendek, Yusuf menyarankan agar pemerintah mencari potensi pasar lain ataupun meningkatkan membagi proporsi ekspor komoditi ke negara lain. Misalnya ke negara-negara yang mercy market di Asia seperti Pakistan dan India.

“Selain itu, negara-negara Afrika Utara seperti Mesir, saya kira juga bisa mendapatkan porsi dalam konteks mendorong diversifikasi negara tujuan di periode perlambatan perekonomian China ini,” kata Yusuf.

Selain itu, Yusuf juga menyarankan agar pemerintah melakukan mitigasi dampak tidak langsung yang bisa diberikan dari perlambatan ekonomi China.

Ia menjelaskan, melambatnya ekonomi China tentu akan semakin menguatkan melambatnya potensi pertumbuhan ekspor di tahun 2024. Sehingga Pemerintah perlu mengoptimalkan pos lain selain ekspor, seperti belanja pemerintah dan juga konsumsi rumah tangga.

“Untuk belanja pemerintah dari sisi kebijakan fiskal, saya kira upaya dalam melakukan automatic adjustment di awal tahun sudah relatif baik. Tetapi juga perlu dengan potensi perkembangan penerimaan negara di pertengahan tahu nanti,” terangnya.

Meski begitu, Yusuf memperkirakan dalam jangka menengah panjang, China masih akan menjadi mitra dagang utama Indonesia. Menurutnya, akan cukup sulit untuk melepaskan pangsa pasar China yang besar dan market yang bervariasi.

“Perdagangan  kedua negara bisa ditingkatkan dengan mendorong produk-produk di luar produk unggulan ekspor kedua negara. Misalnya Indonesia bisa menjadikan China sebagai salah satu negara pangsa pasar UMKM yang ingin melakukan ekspor,” katanya.

Untuk diketahui, kinerja perdagangan Indonesia dengan China terus meningkat setiap tahunnya. Jika dilihat dari ekspor, pada 2019 ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 27,96 miliar, kemudian meningkat pada 2020  mencapai US$ 31,78 miliar, pada 2021 US$ 53,7 miliar, pada 2022 US$ 65,8 miliar, dan pada November 2023 mencapai US$ 56,57 miliar.

Sementara itu dari sisi impor, nilainya juga terus menanjak dari 5 tahun terakhir. Pada 2019 mencapai US$ 44,93 miliar, 2020 US$ 39,63 miliar, pada 2021 mencapai US$ 56,2 miliar, 2022 US$ 67,7 miliar, dan hingga November 2023 mencapai  US$ 56,74 miliar.

Investasi dari China Masih Akan Tinggi

Saat ini China masuk 5 besar Penanaman Modal Asing (Asing) ke Indonesia. Pada 2019 nilainya mencapai US$ 4,74 miliar, pada 2020 sebesar US$ 4,84 miliar, namun turun pada 2021 yakni mencapai US$ 3,16 miliar, kemudian kembali meningkat pada 2022 mencapai US$ 8,22 miliar, dan kembali turun pada 2023 yang mencapai US$ 7,4 miliar.

Meskipun suntikan modal dari China naik turun, Yusuf yakin investasi dari China masih akan menjadi salah satu PMA terbesar di Indonesia, setidaknya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia pada 2024 Berpeluang Sentuh Hingga US$ 155 Miliar

Hal ini karena, China meskipun pertumbuhan ekonominya tidak setinggi dalam satu dekade yang lalu, tetapi masih menjadi salah satu negara yang berpengaruh di perekonomian global, sehingga prospek untuk kemudian bisa tetap tumbuh relatif masih ada.   

Disaat yang bersamaan, investasi dari China juga berkaitan dengan industri yang saat ini memang tengah booming seperti industri kendaraan listrik.

“Sehingga peningkatan investasi yang berkaitan dengan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia juga masih akan menjadi salah satu tujuan utama investor dari China,” ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×