kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Masyarakat Tahan Belanja Meski Daya Beli Terjaga, Ini Buktinya!


Senin, 09 Februari 2026 / 14:22 WIB
Masyarakat Tahan Belanja Meski Daya Beli Terjaga, Ini Buktinya!
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja di ritel modern (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya beli masyarakat Indonesia dinilai masih tumbuh dan relatif terjaga. 

Namun, keinginan masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya justru semakin tertahan akibat meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta sikap kehati-hatian pasca pandemi.

Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, mengatakan hasil riset yang dilakukan, menunjukkan masyarakat saat ini cenderung bersikap defensif dalam mengelola keuangan. 

Baca Juga: Kelas Menengah Makin Menyusut, Target Pajak 2026 Susah Tercapai

Penahanan konsumsi bukan disebabkan oleh ketiadaan uang, melainkan karena prioritas menjaga keamanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan.

"Dari hasil riset yang kami lakukan, daya beli memang ada dan tumbuh, tapi masyarakat kini lebih memilih bersikap defensive. Mereka menahan konsumsi bukan karena tidak punya uang, melainkan lebih memprioritaskan keamanan finansial karena ketidakpastian ekonomi di masa depan," ujar Sandy dalam keterangannya, Senin (9/2).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tercermin dari konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan tumbuh konsisten di kisaran 4,53%–5,22% secara tahunan pada 2023–2024, serta bertahan di level 4,98% pada 2025. 

Secara agregat, data ini mengindikasikan ekonomi domestik belum melemah, dengan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski demikian, tekanan mulai terlihat pada sisi upah riil pekerja, terutama pada paruh kedua 2025. Jika pada 2024 kenaikan upah masih melampaui inflasi, data Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94% year on year (yoy) ), lebih rendah dibandingkan inflasi yang mencapai 2,31% yoy.

"Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar -0,37%, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga," ungkap Sandy. 

Baca Juga: Proyek Hilirisasi Peternakan Ayam Dimulai, Danantara Gelontorkan Dana Rp 20 Triliun

Dari sisi ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja pada Februari 2025 tercatat bertambah 3,59 juta orang, relatif sebanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Namun, pada Agustus 2025, penambahan tenaga kerja hanya mencapai 1,90 juta orang, jauh lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai 4,79 juta orang.

Perlambatan ini juga tercermin pada Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang dirilis Bank Indonesia. Meski masih berada di atas level 100, IPSI mengalami pelemahan cukup tajam pada paruh kedua 2025 sebelum pulih terbatas di akhir tahun. Kondisi ini mengindikasikan penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus kenaikan biaya hidup.

Sandy menambahkan, kondisi keuangan rumah tangga menunjukkan pola yang semakin tersegmentasi. 

Secara total, tabungan masyarakat tumbuh hingga 12,1% yoy pada November 2025. Namun, pertumbuhan tersebut didominasi kelompok simpanan besar dengan saldo di atas Rp 1 miliar.

Sebaliknya, kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah cenderung stagnan. Rata-rata tabungan per rekening dengan saldo di bawah Rp 100 juta bahkan menurun tipis, dari sekitar Rp 2,0 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp 1,7 juta pada periode 2024–2025.

"Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi," ungkapnya.

Di sektor ritel, Indeks Penjualan Riil (IPR) masih tercatat kuat dan mencapai level 248,3 pada Maret 2025, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan tersebut dipicu oleh faktor musiman Ramadhan dan Idulfitri. 

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sentil Penonaktifan PBI JKN yang Bikin Warga Kaget

Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sepanjang 2023–2025 konsisten berada di atas level 100, meski mengalami pelemahan signifikan pada paruh kedua 2025 sebelum pulih terbatas di akhir tahun.

Menurut Sandy, tantangan utama daya beli Indonesia saat ini bukan terletak pada ketiadaan konsumsi, melainkan pada perlunya pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

"Tanpa penguatan fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya," pungkasnya

Selanjutnya: FSB Tuduh Intelijen Ukraina Dalangi Percobaan Pembunuhan Jenderal Rusia

Menarik Dibaca: Promo PSM Alfamart Periode 8-15 Februari 2026, Es Krim Cornetto Beli 2 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×