kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Krisis Geopolitik Internasional Dinilai Berpotensi Mendisrupsi Ekonomi Nasional


Jumat, 07 Juli 2023 / 15:49 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Periode 2012-2017 Muliaman D Hadad pada acara penganugerahan Strategy-into-Performance Execution Excellence (SPEx2®) DX Award.


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Dewan Komisioner OJK Periode 2012-2017 Muliaman D Hadad mengungkapkan bahwa krisis geopolitik internasional berpotensi memberikan efek pada perekonomian dalam negeri secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam acara penganugerahan Strategy-into-Performance Execution Excellence (SPEx2®) DX Award, Muliaman menjabarkan bahwa efek krisis politik atau geopolitik di dunia internasional akan bertambah buruk dengan adanya El Nino yang mengancam ketersediaan pangan.

"Pasca kisruh geopolitik perang Ukraina dan Rusia, kita sudah lalui kondisi suply chain yang buruk, ini akan berdampak pula pada ketersediaan pangan, energi, dan sebagainya. Kita akan memasuki periode yang tidak semudah sebelumnya dalam memanfaatkan likuiditas," paparnya, Kamis (6/7).

Ia memberikan contoh, konflik geopolitik juga tajam melanda Eropa pasca Perang Ukraina dan Rusia. Di Swiss dan Perancis, terjadi kerusuhan sosial yang cukup besar. 

Baca Juga: Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global, Pemerintah dan Industri Harus Bekerjasama

Ia mengatakan, kondisi geopolitik memiliki dampak signifikan dalam kelangsungan arus barang dan jasa internasional. Selain menyebabkan distorsi ketersediaan pangan, hal tersebut juga berpengaruh terhadap arus investasi yang masuk ke Indonesia. 

Dalam kondisi krisis geopolitik, potensi kehilangan  investasi ini terancam terganggu dengan adanya sanksi, hingga larangan ekspor. Dalam langkah panjangnya, disrupsi dari krisis geopolitik juga mengancam kepercayaan konsumen (consumen confidence). Menurut dia, kepercayaan konsumen sangat penting dijaga bagi Indonesia yang sedang mengedepankan industri pariwisatanya.

Namun demikian, Muliaman juga melihat penilaian Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) yang mengelompokkan Indonesia kembali dalam jajaran negara berpenghasilan menengah atas atau upper middle income country, dalam kategorisasi terbaru yang mereka keluarkan Juli ini.

Penilaian tersebut, diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi Indonesia. 

"Ini masih di pertengahan tahun, dampaknya masih bisa kita lihat. Semoga kita juga bisa mempertahankan proyeksi IMF bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai sekitar 5%. Masuknya Indonesia dalam kategori upper middle income country. Mudah-mudahan bisa memberikan sentimen positif," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×