kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Kontribusi Manufaktur terhadap Penerimaan Pajak Terus Menurun


Selasa, 11 Agustus 2026 / 15:29 WIB
Kontribusi Manufaktur terhadap Penerimaan Pajak Terus Menurun
ILUSTRASI. Kontribusi sektor manufaktur atau industri pengolahan terhadap penerimaan pajak Indonesia terus mengalami penurunan dalam 13 tahun terakhir.? (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kontribusi sektor manufaktur atau industri pengolahan terhadap penerimaan pajak Indonesia terus mengalami penurunan dalam 13 tahun terakhir.

Kondisi ini dinilai menunjukkan melemahnya peran sektor manufaktur sebagai salah satu penopang penerimaan negara.

Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya sejak 2013, kontribusi sektor pengolahan terhadap penerimaan pajak memang menunjukkan tren penurunan dalam jangka panjang.

"Pada tahun 2013, kontribusi sektor pengolahan dalam penerimaan pajak mencapai 30,66%. Namun, pada tahun lalu, kontribusinya hanya sebesar 24,6%. Sementara itu, pada semester I tahun 2026, kontribusinya hanya sebesar 22,8%," ujar Fajry kepada Kontan.co.id, Selasa (11/8/2026).

Dengan demikian, dalam kurun waktu tersebut, kontribusi sektor manufaktur terhadap penerimaan pajak telah turun hampir 8 poin persentase. Penurunan tersebut juga berlanjut pada 2026, ketika kontribusinya hingga semester I hanya mencapai 22,8%.

Baca Juga: Istana Bantah Rumor Pratikno Akan Mundur dari Kabinet karena Sakit

Menurut Fajry, penurunan kontribusi sektor pengolahan terhadap penerimaan pajak sejalan dengan menurunnya kontribusi sektor manufaktur dalam perekonomian Indonesia.

Selain itu, kondisi tersebut juga sejalan dengan penurunan rasio pajak atau tax ratio Indonesia pada periode yang sama.

Fajry menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya melalui reformasi perpajakan.

Berdasarkan studi yang dilakukannya, peningkatan tax ratio tertinggi dan berlangsung paling lama justru terjadi pada periode 1983–1996 atau saat Reformasi Pajak Modern.

"Hal ini terjadi karena reformasi pajak diiringi dengan industrialisasi," katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya mengintegrasikan reformasi perpajakan dengan reformasi ekonomi. Reformasi pajak tanpa dibarengi penguatan basis ekonomi hanya berpotensi meningkatkan penerimaan negara dalam jangka pendek.

"Reformasi pajak (tax reform) tanpa adanya reformasi ekonomi akan sia-sia, karena hanya akan meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek," kata Fajry.

Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan reformasi ekonomi apabila ingin meningkatkan tax ratio secara berkelanjutan.

Baca Juga: Cegah Kasus Keracunan, Ketua BGN Imbau MBG Tak Dibawa Pulang

"Jika kita ingin rasio pajak meningkat secara terus-menerus, reformasi ekonomi perlu dilakukan," tegasnya.

Fajry juga mengingatkan bahwa kinerja tax ratio tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Menurutnya, kementerian dan lembaga lain juga memiliki peran dalam memperkuat sektor-sektor ekonomi yang menjadi basis penerimaan negara, termasuk industri pengolahan.

Fajry memperingatkan, apabila kontribusi sektor pengolahan terus mengalami penurunan, pemerintah akan semakin kesulitan menggali penerimaan pajak dari aktivitas ekonomi.

"Jika sektor pengolahan terus menurun, pemerintah akan semakin sulit untuk menggali penerimaan pajak dari perekonomian, sehingga rasio pajak kita pun akan semakin turun," tegas Fajry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×