Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai lonjakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) komoditas nikel hingga Rp 21 triliun hingga 31 Agustus 2026 membuktikan keberhasilan program hilirisasi.
Pemerintah mencatat nilai ekspor nikel dan barang daripadanya melonjak 69,3% menjadi US$ 6,54 miliar pada semester I 2026.
Capaian ini secara langsung mengerek realisasi PNBP komoditas nikel hingga 31 Agustus 2026 menjadi Rp 21 triliun, meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 10 triliun.
Yusuf mengungkapkan bahwa capaian fantastis tersebut mengindikasikan hilirisasi telah berhasil menciptakan nilai tambah perekonomian.
"Ini merupakan fondasi industrialisasi, tetapi belum menjadi tujuan akhir. Tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (5/10/2026).
Baca Juga: Harga Minyak & Komoditas Tambang Masih Tinggi, PNBP SDA Berpotensi Tembus Target 2026
Yusuf menuturkan, perkembangan rantai pasok nikel nasional saat ini turut didukung oleh pengerjaan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikembangkan pelaku industri.
Keberadaan proyek-proyek besar seperti teknologi pengolahan High Pressure Acid Leach (HPAL) dinilai penting untuk mengolah bijih limonit berkadar rendah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Salah satu contohnya, PT Vale Indonesia Tbk yang mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi nikel berbasis HPAL di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Kapasitas produksi ketiga proyek tersebut ditaksir mencapai 240.000 ton MHP per tahun, sementara Vale menyebut program investasi strategisnya di Indonesia mencapai sekitar US$ 7,2 miliar.
Di Pomalaa, proyek HPAL dikembangkan bersama Ford Motor Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt melalui PT Kolaka Nickel Indonesia, dengan investasi US$ 4,5 miliar. Adapun kapasitas hingga 120.000 ton nikel terkandung dalam MHP per tahun.
"Selain memperluas pemanfaatan sumber daya, proyek ini juga membuka akses ke rantai pasok global yang lebih beragam. Namun, MHP tetap merupakan produk antara. Dampak proyek tersebut terhadap industrialisasi akan lebih besar apabila MHP diproses lebih lanjut di Indonesia menjadi prekursor, katoda, dan sel baterai," kata Yusuf.
Baca Juga: PNBP Berpeluang Lampaui Target, Harga Komoditas Jadi Penopang
Lebih lanjut, Yusuf menambahkan, pendalaman rantai nilai serta keterlibatan industri lokal dinilai perlu terus diperkuat agar dampak ekonomi tidak sekadar berfokus pada lonjakan nilai ekspor.
Langkah konkret ini dipandang penting untuk memastikan hilirisasi memberikan nilai tambah yang optimal serta memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah operasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














