kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.112   16,00   0,09%
  • IDX 6.039   -91,61   -1,49%
  • KOMPAS100 789   -11,01   -1,38%
  • LQ45 602   -6,41   -1,05%
  • ISSI 209   -3,04   -1,44%
  • IDX30 339   -2,88   -0,84%
  • IDXHIDIV20 421   -2,26   -0,53%
  • IDX80 90   -1,13   -1,24%
  • IDXV30 115   -0,96   -0,83%
  • IDXQ30 109   -0,68   -0,62%

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Ditopang Lonjakan Utang, Ini Peringatan Ekonom


Rabu, 29 Juli 2026 / 09:09 WIB
Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Ditopang Lonjakan Utang, Ini Peringatan Ekonom
ILUSTRASI. Penjualan daging ayam di gerai ritel modern (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, di balik kenaikan belanja masyarakat, muncul tren yang perlu dicermati, yakni semakin besarnya peran utang dalam menopang konsumsi di tengah melemahnya tabungan.

Laporan Bank Mandiri yang dirilis Selasa (28/7/2026) menunjukkan Mandiri Spending Index (MSI) pada Juni 2026 berada di level 123 atau tumbuh 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sebaliknya, Mandiri Saving Index turun ke level 84,8 atau terkontraksi 5,7% secara tahunan. Pada saat yang sama, Indeks Pinjaman melonjak 24,6% menjadi 157,7.

Bank Mandiri menilai kondisi tersebut mencerminkan konsumsi rumah tangga yang masih bertahan, tetapi semakin ditopang oleh pembiayaan karena kemampuan menabung masyarakat melemah. 

Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Makin Ditopang Utang

"Konsumsi rumah tangga masih bertahan, namun semakin ditopang oleh pembiayaan di tengah melemahnya tingkat tabungan," tulis Bank Mandiri dalam laporannya.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater nonbank hingga Mei 2026 mencapai Rp 160,7 triliun. 

Pinjaman online menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 103,7 triliun atau sekitar 65% dari total pembiayaan. Sementara outstanding kartu kredit mencapai Rp 43,8 triliun atau 27%, sedangkan paylater perusahaan pembiayaan sebesar Rp 13,2 triliun atau 8%.

Dari sisi pertumbuhan, paylater mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 53,6% secara tahunan. Adapun pinjaman online tumbuh 25,7% dan kartu kredit meningkat 15,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bank Mandiri juga melihat perubahan pola penggunaan pinjaman online yang semakin didominasi untuk kebutuhan konsumtif. 

Berdasarkan data OJK, porsi pinjaman konsumtif meningkat menjadi 86% pada April 2026, naik dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pembiayaan produktif terus menyusut hingga tinggal 14%.

Baca Juga: OCE BankMandiri: Belanja Masih Tumbuh per Juni,Konsumsi Rumah Tangga Bergantung Utang

Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan pinjaman lebih banyak digunakan untuk membiayai kebutuhan konsumsi rumah tangga dibandingkan kegiatan usaha.

Di sisi lain, laju pertumbuhan belanja masyarakat mulai melambat memasuki awal kuartal III-2026. Pertumbuhan belanja tercatat rata-rata 5,8% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kuartal II yang mencapai 6,1% dan kuartal I sebesar 6,4%.

Bank Mandiri menilai kombinasi pelemahan tabungan dan meningkatnya pembiayaan konsumtif menunjukkan konsumsi rumah tangga semakin bergantung pada leverage. 

Karena itu, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan daya beli, pengendalian biaya hidup, serta perluasan lapangan kerja dinilai menjadi kunci agar konsumsi ke depan ditopang oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih sehat.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan tekanan biaya hidup yang masih tinggi telah mendorong banyak rumah tangga mengandalkan utang untuk mempertahankan konsumsi. 

Baca Juga: BPS: Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Sumbang 82,65% ke PDB Kuartal I 2026

Menurutnya, tren tersebut perlu diwaspadai karena dapat mempersempit ruang keuangan masyarakat sekaligus meningkatkan risiko terhadap konsumsi di masa mendatang.

Ia menilai, jika suku bunga tetap tinggi atau akses kredit semakin ketat, kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan belanja berpotensi melemah sehingga dapat menekan pertumbuhan konsumsi. 

Oleh sebab itu, prospek konsumsi rumah tangga ke depan sangat bergantung pada pemulihan pendapatan riil masyarakat. Di saat yang sama, ekspansi kredit juga perlu dijaga tetap sehat agar tidak memicu peningkatan risiko kredit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×