kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Konflik Timur Tengah Mengancam Krisis Pangan Dunia


Minggu, 22 Maret 2026 / 21:29 WIB
Konflik Timur Tengah Mengancam Krisis Pangan Dunia
ILUSTRASI. Gerakan pangan murah Polres Indramaayu (ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro.)


Reporter: Markus Sumartomdjon | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Ancaman krisis pangan global kembali menghantui dunia. Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut ke level rekor pada 2026.

Jika konflik berkepanjangan dan harga energi dunia tetap tinggi, hampir 45 juta orang tambahan diperkirakan bisa jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut.

 Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan dunia saat ini memang sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius.

 “Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya,” ujar Amran, Minggu (22/3).

Baca Juga: Pemerintah Akan Tindak Tegas Penjual Bahan Pokok di Atas HET, Ini Ancamannya

 Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global seperti yang pernah terjadi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022.

Dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global.

Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi paling rentan menghadapi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.

Baca Juga: Bulog Salurkan Bantuan Pangan Periode Fabruari-Maret, Target Penyaluran 32 Juta KPM

“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” kata Amran.

Pemerintah sendiri sebut Amran sudah menjalankan ketahanaan pangan lewat pembangaungan pertanian untuk peningkatan produksi pangan.  

Baca Juga: Cegah Alih Fungsi Lahan Sawah, Izin Perubahan Lahan Ditarik ke Pemerintah Pusat

Hasilnya klaim Amran, produksi beras nasional surplus, mencapai sekitar 34,7 juta ton atau naik sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya. Sementara cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai lebih dari 4 juta ton.

Melihat hasil itu Amran optimistis bisa terus meningkatkan  CBP dalam bulan-bulan berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×