kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.065.000 1,04%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Komplikasi ginjal, Hasyim Wahid, adik bungsu Gus Dur wafat


Sabtu, 01 Agustus 2020 / 14:04 WIB
Komplikasi ginjal, Hasyim Wahid, adik bungsu Gus Dur wafat
ILUSTRASI. KH Hasyim Wahid, adik bungsu Presiden RI ke-4 Abrudahman Wahid (Gus Dur) yang akrab disapa Gus Im meninggal dunia hari ini, Sabtu (1/8/2020).

Sumber: Kompas.com | Editor: Khomarul Hidayat

Bekerja di BPPN

Dia bekerja di BPPN terhitung mulai 1 Desember 1999. Gus Im menceritakan, dia bekerja di sana setelah berkomunikasi dengan Glenn Yusuf, yang waktu itu masih Ketua BPPN pada pertengahan November 1999.

"Dia meminta saya membantu omong dengan debitur, yang dianggap saya bisa lebih enak omong. Setelah beberapa hari, dia bilang, sudahlah kerja saja di BPPN sekalian. Lalu, dikeluarkanlah surat keputusan (SK) tertanggal 3 Desember 1999," kata Gus Im.

Di BPPN, dia bertugas membangun hubungan dengan para debitur yang pada waktu itu kerap lari dari kewajibannya. Para debitur menyatakan siap dipenjara asalkan tidak bayar hutang.

"Saya disuruh meyakinkan para debitur yang termasuk 20 besar itu agar tak menempuh cara itu (dipenjara). Kita kasih kesempatan mereka bekerja dan bayar utang-utang mereka pada negara. Sebagian cash dan sisanya dibayar dengan asset," katanya.

Di mata teman-temannya, anak bungsu dari 6 bersaudara itu pribadi yang unik, kaya ragam, dan kontroversial.

Baca Juga: Curhat Menteri Luhut Pandjaitan di medsos: setiap tindakan pasti ada konsekuensinya

Dia merupakan jebolan Fakultas Psikologi dan Ekonomi UI serta Teknik Kimia ITB. Pergaulannya luas. Gus Im dekat dengan berbagai kalangan, mulai dari para petinggi militer, aktivis LSM, hingga mahasiswa. Tak hanya berdiam di istana, dia juga turun ke Pasar Jatinegara.

Musik, ekonomi dan filsafat

Minatnya juga luas, mulai dari musik Metallica, Guns 'N' Roses, Beethoven, Johan Sebastian Bach, maupun Amadeus Mozart. Gus Im sanggup berdebat soal pemikiran ekonomi, sosial-politik, sastra, filsafat, hingga mistik Islam.
Dia dianggap berbakat dan punya modal besar untuk meniti karier politik, tetapi dia sendiri mengaku sangat mengagumi E.E. Cummings, dan sangat ingin menjadi penyair.

Idolanya adalah Charlie Chaplin. Gus Im kagum akan cara Chaplin memosisikan diri pada masyarakat. Chaplin selalu memosisikan diri secara marginal dan berpihak pada yang tidak diuntungkan.

Menurut Gus Im Chaplin juga memiliki pandangan yang kritis terhadap realitas kehidupan. "Charlie Chaplin sebagai social pariah, orang paria yang dibuang-buang, lebih banyak pahlawan mbambung begitu ya. Dulu, waktu SMA, saya melihatnya begitu. Setelah mahasiswa, saya lihat kritik sosialnya. Kelas yang dirugikan lawan kelas yang diuntungkan," kata Gus Im.

Saat sudah dewasa, Gus Im mengaku sudah mengerti filsafat kapitalisme liberal, komunisme, dan ekonomi sentral. Beberapa tokoh di antaranya adalah Otto von Bismarck, Kim Dae-jung, dan Nelson Mandela. Selamat jalan Gus Im...

Baca Juga: Harapan Khofifah maklumat pesantren Tebuireng bisa jadi panduan tangani Covid-19

Penulis : Nur Fitriatus Shalihah
Editor : Rizal Setyo Nugroho

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hasyim Wahid, Adik Bungsu Gus Dur Meninggal Dunia".

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×