kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 -1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Komoditas Tani yang Paling Banyak Diusahakan pada 2023 Bukan Penyumbang Inflasi


Senin, 04 Desember 2023 / 15:13 WIB
Komoditas Tani yang Paling Banyak Diusahakan pada 2023 Bukan Penyumbang Inflasi
ILUSTRASI. Tanaman Cabai. Komoditas Tani yang Paling Banyak Diusahakan pada 2023 Bukan Penyumbang Inflasi.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil Sensus Pertanian 2023 tahap pertama pada Senin (4/12). 

Hasil Sensus Pertanian menunjukkan, jumlah usaha pertanian pada tahun 2023 didominasi oleh usaha pertanian perorangan (UTP) dengan mencakup 99,94% dari total usaha pertanian yang ada. 

Adapun usaha pertanian pada tahun ini sebesar 29,36 juta unit, sedangkan UTP tercatat sebanyak 29,34 juta unit. 

Data otoritas statistik menunjukkan, komoditas pertanian yang paling banyak diusahakan oleh UTP pada tahun 2023, antara lain, padi sawah inbrida dengan porsi 32,08%. 

Baca Juga: Chatib Basri Sebut Kenaikan Harga Beras Lebih Bahaya Ketimbang Harga BBM, Kenapa?

Kemudian, disusul dengan ayam kampung biasa sebesar 18,51%. Ada juga sapi potong dengan porsi 13,91%, kelapa dengan porsi 10,64%, juga jagung hibrida dengan porsi 10,34%. 

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Amalia Adininggar mengungkapkan, komoditas yang paling banyak diusahakan UTP pada tahun 2023 tak mencakup komoditas pertanian yang menyumbang inflasi. 

Bila menilik data BPS, komoditas utama penyebab inflasi November 2023 adalah cabai merah dengan andil 0,16%, cabai rawit dengan andil 0,08%, juga bawang merah dengan andil 0,03%. 

“Namun, ketiga komoditas ini bukan termasuk pada jajaran komoditas yang paling banyak diusahakan petani perorangan, berdasarkan Sensus Pertanian 2023,” ujar Amalia, Senin (4/12) di Jakarta. 

Baca Juga: Ini Penyebab Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III-2023 Hanya 4,94%

Melihat hal itu, Amalia menegaskan perlunya mendorong usaha pertanian baik perorangan maupun yang lainnya untuk melakukan usaha dengan fokus komoditas pertanian yang menyumbang inflasi. 

Apalagi, dengan menilik usaha pertanian tidak hanya berupa UTP saja, tetapi ada juga perusahaan pertanian berbadan hukum (UPB) dan usaha pertanian lainnya (UTL). 

Sehingga dengan demikian, ia berharap upaya perluasan ini mampu menjadi bagian dalam meminimalkan inflasi yang bersumber dari komoditas-komoditas tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×