Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja kegiatan dunia usaha pada kuartal III 2026 mengalami perlambatan. Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 11,75%, lebih rendah dibandingkan kuartal II 2026 yang sebesar 12,97%.
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. SBT sektor tersebut diperkirakan hanya mencapai 0,79% pada kuartal III 2026, turun dari 1,74% pada kuartal sebelumnya.
Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Myrdal Gunarto menilai, perlambatan kegiatan dunia usaha pada kuartal III tahun ini masih lebih banyak dipengaruhi oleh faktor musiman, khususnya dari sisi penawaran (supply).
"Perlambatan pertumbuhan kegiatan dunia usaha di kuartal III ini tampaknya sangat didominasi oleh faktor musiman (seasonal), terutama dari sisi suplai,” tutur Myrdal kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: E20 Meluncur Januari 2028, Pemerintah Siapkan Aturan Baru & Bangun 50 Pabrik Etanol
Adapun menurutnya, penurunan SBT di sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dari 1,74% ke 0,79% pada Kuartal III 2026, selaras dengan siklus pasca-panen raya dan masuknya periode musim kemarau yang secara historis selalu menekan output agrikultur di kuartal ketiga.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi pelemahan permintaan domestik tetap perlu diwaspadai. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dikonfirmasi melalui sejumlah indikator ekonomi lainnya.
"Namun, potensi pelemahan permintaan domestik tetap tidak boleh diabaikan. Untuk memastikannya, kita perlu melihat data pendamping seperti Indeks Penjualan Riil (IPR) dan inflasi inti," jelasnya.
Karena itu, Myrdal menilai peran kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia akan menjadi sangat penting pada paruh kedua tahun ini untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ia mengatakan intervensi fiskal, penciptaan iklim usaha yang kondusif, serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial perlu dioptimalkan sebagai penyangga (countercyclical buffer) di tengah perlambatan yang bersifat siklikal.
Baca Juga: Usai Disorot BPK, DJP Jelaskan Penyebab Piutang Pajak Terus Meningkat
"Di sinilah peran intervensi fiskal maupun menjaga iklim bisnis yang kondusif oleh pemerintah, serta bauran kebijakan moneter dari Bank Indonesia di paruh kedua akan sangat krusial. Program-program strategis dalam agenda Asta Cita, khususnya aktivitas belanja fiskal maupun makroprudensial seperti dorongan aktivitas di sektor pangan, energi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur perumahan, dan hilirisasi diharapkan dapat berfungsi sebagai countercyclical buffer yang efektif menciptakan multiplier effect untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah moderasi siklikal ini," katanya.
Lebih lanjut, Myrdal menilai perlambatan kegiatan dunia usaha pada kuartal III diperkirakan hanya memberikan tekanan yang terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Dampak dari perlambatan SKDU ini terhadap PDB kuartal III berpotensi memberikan tekanan marjinal yang terbatas. Karena sektor pertanian menyumbang porsi yang cukup signifikan terhadap PDB, sekitar 11% hingga 13%, efek perlambatannya relatif terbatas dalam menahan laju pertumbuhan," ujarnya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini, ia menilai pemerintah perlu mengandalkan akselerasi hilirisasi di sektor pertanian, peningkatan ekspor komoditas pertanian yang lebih produktif, percepatan belanja pemerintah, serta realisasi investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Ia menambahkan, untuk mengimbangi moderasi ini dan menjaga momentum ekonomi paruh kedua, andalan pertumbuhan akan bergeser kuat pada akselerasi hilirisasi di sektor pertanian, ekspor sektor pertanian yang lebih produktif, belanja pemerintah (konsumsi pemerintah), dan realisasi investasi (PMTB) yang bisa menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ke bawah 6%.
Di sisi lain, Myrdal mengatakan selain sektor pertanian terdapat tiga sektor yang perlu menjadi perhatian karena memiliki keterkaitan erat dengan permintaan domestik dan iklim investasi.
Pertama, sektor perdagangan besar dan eceran. Menurutnya, sektor ini merupakan indikator paling langsung dari konsumsi rumah tangga.
"Jika SBT pada sektor ini ikut turun secara signifikan, hal tersebut mengonfirmasi bahwa perlambatan bukan sekadar masalah musiman suplai agrikultur, melainkan ada pelemahan daya beli struktural di tingkat konsumen," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
