kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.365   -44,28   -0,69%
  • KOMPAS100 835   -9,48   -1,12%
  • LQ45 634   -6,17   -0,96%
  • ISSI 221   -1,24   -0,56%
  • IDX30 356   -3,64   -1,01%
  • IDXHIDIV20 434   -4,17   -0,95%
  • IDX80 95   -1,11   -1,15%
  • IDXV30 120   -0,72   -0,60%
  • IDXQ30 113   -1,42   -1,25%

Keyakinan Konsumen Turun, Ruang Belanja Rumah Tangga Makin Tertekan


Senin, 10 Agustus 2026 / 18:51 WIB
Keyakinan Konsumen Turun, Ruang Belanja Rumah Tangga Makin Tertekan
ILUSTRASI. Warga berbelanja di supermarket di Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional pada Juli 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 yang berada pada level optimistis (indeks >100) sebesar 116,8, lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 117,8.

Disisi lain, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diproyeksi mengalami penurunan. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juli 2026 sebesar 125,7, lebih rendah dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 126,4. Meski demikian, BI menilai IEK tetap kuat di tengah penurunan indeks.

Baca Juga: Investasi Pariwisata Tembus Rp39,68 Triliun, Pengamat Soroti Multiplier Effect

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai penurunan keyakinan konsumen, termasuk ekspektasi enam bulan ke depan, menunjukkan rumah tangga semakin waspada terhadap prospek pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli.

“Ini menjadi sinyal bahwa rumah tangga semakin berhati-hati terhadap prospek pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli,” ujar Rizal kepada Kontan, Senin (10/8/2026).

Di sisi lain, proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat dari 10% menjadi 10,5%. Menurut Rizal, kenaikan tersebut menunjukkan ruang belanja masyarakat semakin terbatas karena sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk memenuhi kewajiban utang.

Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi naik tipis dari 72,7% menjadi 73% pada Juli 2026. Namun, kenaikan tersebut belum dapat diartikan sebagai penguatan daya beli masyarakat.

Rizal menjelaskan, peningkatan porsi konsumsi justru dapat mencerminkan semakin besarnya pendapatan rumah tangga yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

“Jika kepercayaan konsumen terus melemah, masyarakat cenderung menahan belanja nonprimer dan pembelian barang tahan lama, yang kemudian menekan penjualan, produksi, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja,” jelasnya.

Menurut Rizal, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian lantaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pelemahan konsumsi secara berkelanjutan berpotensi merembet ke aktivitas dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja.

Karena itu, menurut dia, menjaga konsumsi masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan stimulus temporer. Pemerintah perlu memperkuat pendapatan riil masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja produktif, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, serta mengurangi tekanan beban utang rumah tangga.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Karhutla Bromo Teratasi, Tersisa 1-2 Titik Api

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×