kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Kepala BKF Kemenkeu Sebut Kenaikan Harga Komoditas Beri Keuntungan Bagi Indonesia


Rabu, 12 Januari 2022 / 16:22 WIB
ILUSTRASI. Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu Sebut Kenaikan Harga Komoditas Beri Keuntungan Bagi Indonesia


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemeneku) Febrio Kacaribu mengatakan, beberapa harga komoditas yang meningkat di pasar global beberapa waktu terakhir memberikan keuntungan bagi Indonesia.

“Harga komoditas ini membawa kabar baik, khususnya bagi komoditas unggulan Indonesia. Dalam konteks ini kami tunjukkan ada nikel, crude palm oil (CPO), karet bahkan juga batubara,” tutur Febrio pada bincang dengan media secara virtual, Rabu (12/1).

Febrio mencontohkan, harga CPO sudah naik hampir 200% dibandingkan sebelum pandemi.

Baca Juga: BKF Sebut Varian Omicron Menimbulkan Ketidakpastian Ekonomi di 2022

Selain itu, ada juga batubara juga yang harganya hampir 200%. Sehingga kenaikan tersebut dapat menghasilkan pendapatan ekspor dan juga mendorong penciptaan lapangan kerja karena ini uang kemudian mengalir.

Febrio mengatakan, keuntungan Indonesia dari beberapa komoditas ini masih akan terjadi hingga akhir tahun 2022. Akan tetapi setelah lewat musim dingin kemungkinan akan berkurang. 

Sementara itu, untuk nikel, CPO dan karet, menurutnya akan sangat menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: Efektivitas Subsidi Pajak Tahun 2022 Dikaji

Di mana, saat ini pertumbuhan ekonomi dunia terutama mengalami perbaikan usai lumpuh selama dua tahun terakhir.

“Nikel, CPO, karet ini akan ngikutin pertumbuhan ekonomi dunia. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi dunianya masih kuat maka kita akan melihat ini masih cukup berpeluang. Jadi kita masih ada peluang untuk nilai tambah dari sana,” imbuh Febrio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×