Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – MADINAH. Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah sebagai langkah untuk meningkatkan partisipasi produk dalam negeri serta pelaku usaha nasional pada sektor yang memiliki nilai ekonomi mencapai sekitar Rp 194 triliun setiap tahun.
Dalam forum tersebut, para peserta membahas sejumlah langkah konkret untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah, termasuk pengembangan sektor pangan, logistik, investasi, hingga penguatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Forum tersebut membahas berbagai strategi penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah, mulai dari sektor pangan, logistik, investasi hingga pemberdayaan UMKM guna meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.
Baca Juga: Menhaj: Keberhasilan Haji Diukur dari Kepuasan Jemaah!
Direktur Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Tri Hidayatno mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan langkah strategis untuk meningkatkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
“Potensi ekonomi haji dan umrah merupakan peluang strategis yang harus dioptimalkan bersama. Melalui pengembangan ekosistem yang terintegrasi, kami ingin memastikan semakin banyak produk, layanan, dan pelaku usaha Indonesia menjadi bagian dari rantai nilai haji dan umrah sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujar Tri, mengutip keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah memerlukan kolaborasi antara regulator, pengelola investasi, mitra internasional, dan pelaku usaha agar berbagai peluang ekonomi yang muncul dari penyelenggaraan haji dan umrah dapat dimanfaatkan secara optimal. Upaya tersebut juga didukung berbagai inisiatif strategis pemerintah, termasuk pengembangan Kampung Haji.
Salah satu fokus yang dibahas dalam forum tersebut adalah peningkatan pemanfaatan produk pangan nasional untuk memenuhi kebutuhan jamaah Indonesia di Arab Saudi. Komoditas seperti beras premium dan produk perikanan dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dalam rantai pasok kebutuhan konsumsi jamaah.
Perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Yosi, mengatakan kebutuhan beras premium di Arab Saudi membuka peluang yang besar bagi produk pertanian Indonesia untuk memperluas akses pasar internasional.
“Kebutuhan beras premium di Arab Saudi merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan secara optimal. Dengan kolaborasi yang kuat dan dukungan investasi, produk pangan Indonesia memiliki peluang menjadi bagian dari rantai pasok haji dan umrah secara berkelanjutan,” jelasnya.
Baca Juga: Kemenhaj Bentuk Task Force Lintas Kementerian, Pesawat Haji Tak Lagi Pulang Kosong
Selain sektor pangan, forum juga membahas pengembangan Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk memperkuat distribusi dan rantai pasok kebutuhan jamaah, baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi. Penguatan standar keamanan pangan, dukungan investasi, kemitraan UMKM, serta pengelolaan DAM haji juga menjadi bagian dari strategi pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Sebagai tindak lanjut, para pemangku kepentingan sepakat memperkuat koordinasi lintas sektor, mengoptimalkan kerja sama dengan mitra Arab Saudi, serta mempercepat penyusunan mekanisme dan peta jalan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang berkelanjutan.
Melalui langkah tersebut, Kemenhaj berharap semakin banyak produk dan pelaku usaha nasional yang terlibat dalam rantai pasok haji dan umrah sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














