Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengandalkan kombinasi intervensi pasar dan instrumen moneter.
Bank sentral optimistis tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara dan mata uang Garuda masih berpeluang menguat hingga akhir tahun 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan rupiah sempat kembali menguat ke level Rp 17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026 setelah sebelumnya tertekan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah serta menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Baca Juga: Kucurkan Insentif, BI Andalkan SRBI untuk Tarik Dana Asing
Posisi tersebut relatif stabil dibandingkan akhir Juni 2026 yang berada di Rp 17.880 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan level akhir Juni 2026," ujar Perry, Rabu (22/7/2026).
Namun, sehari setelah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, rupiah kembali melemah.
Di pasar spot, rupiah ditutup di Rp 17.917 per dolar AS atau turun 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.888 per dolar AS.
Untuk meredam gejolak tersebut, BI terus mengoptimalkan intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, pasar spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF).
BI juga memperkuat insentif swap dan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik arus modal asing sekaligus menopang stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: BI Optimistis Rupiah Stabil dan Cenderung Menguat, Ini Penopangnya
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Kepemilikan investor nonresiden pada SRBI meningkat dari Rp 238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp 288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau setara 27,11% dari total outstanding SRBI.
BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap offshore yuan China terhadap rupiah seiring meningkatnya penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan dan investasi.
Perry meyakini fundamental ekonomi Indonesia, imbal hasil aset domestik yang tetap menarik, serta komitmen BI menjaga stabilitas akan menjadi penopang penguatan rupiah ke depan.
"Didukung oleh penguatan stabilisasi nilai tukar, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," tegas Perry.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan SRBI masih menjadi instrumen utama untuk menarik dana asing.
Baca Juga: Jelang Pengumuman BI Rate, Rupiah Melemah ke Rp 17.910 per Dolar AS
Menurutnya, yield SRBI tenor satu tahun tetap stabil di kisaran 7,6% sehingga tetap kompetitif tanpa perlu kenaikan suku bunga yang agresif.
Di sisi lain, Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai bauran kebijakan BI mampu meredam tekanan eksternal, meski belum sepenuhnya menghilangkan risiko apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat atau sentimen global memburuk.
Meski demikian, ia masih memperkirakan rupiah berpotensi menguat ke sekitar Rp 17.830 per dolar AS pada akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














